Menukil dari laman TRT World, berikut tokoh-tokoh Muslim kulit hitam yang berjuang melawan rasisme.
1. Keith Ellison
Keith Ellison (56) merupakan seorang jaksa penuntut umum terkemuka di Minnesota, negara bagian tempat George Floyd terbunuh. Sebagai jaksa, ia memimpin penyelidikan terhadap petugas polisi dan telah berjanji untuk meminta pertanggung jawaban semua orang.
Sebagai seorang pengacara kasus kriminal, Ellison masuk Islam saat masih menjadi mahasiswa di usia 19 tahun ketika aktif menyoroti kebrutalan polisi terhadap warga kulit hitam.
Ellison memiliki pengalaman langsung tentang kebrutalan polisi, sesuatu yang mendorongnya untuk mengambil peran aktif dalam gerakan hak-hak sipil.
"Ketika masih berusia 4 tahun, ia bersembunyi di bawah tempat tidurnya ketika pengangkut pasukan Pengawal Nasional melewati lingkungannya pada 1968, di tengah kerusuhan yang terjadi setelah pembunuhan Martin Luther King Jr. Ia menjadi dewasa pada era Coleman Young di kota itu, wali kota kulit hitam pertama," sebagaimana tertulis dalam majalah Mother Jones.
Pada 1989, Ellison membentuk kelompok yang disebut Koalisi untuk Akuntabilitas Polisi, kemudian menerbitkan buletin yang memerinci kebrutalan polisi. Selain itu, ia juga menjadi Muslim pertama yang terpilih untuk Kongres AS pada 2006, mengambil sumpahnya menggunakan kitab suci Alquran, sebuah langkah yang membuat marah beberapa politikus berkulit putih.
2. Marcus Garvey
Sebelumnya, Imam Mahdi Bray adalah seorang pastor. Ia masuk Islam pada pertengahan 1960, masa ketika orang kulit hitam Amerika Serikat mulai tertarik dengan transisi politik yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika, seperti di negara-negara seperti Aljazair yang memperoleh kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Prancis pada 1962.
"Secara budaya, pemuda Hitam seperti saya sedang mengalami apa yang kami sebut gerakan identitas hitam dan jadi kami melihat ke arah Afrika dan kami melihat Islam adalah agama yang datang dari sana," jelasnya.
Terlebih, Pan-Afrikanisme sangat bergemuruh pada saat itu dan pemberontakan melawan Apartheid di Afrika Selatan menjadi seruan bagi orang Afrika-Amerika.
"Perjuangan untuk martabat di tempat-tempat seperti Afrika Selatan sangat terkait dengan pengalaman Afrika-Amerika yang mengalami sistem Aparthied mereka sendiri," ujar Bray.
Namun, beberapa dekade sebelum para mualaf mengambil inspirasi dari Afrika, ada Marcus Garvey, pendiri Universal Negro Improvement Association (UNIA), yang memulai kampanye kembali ke Afrika.
Garvey yang lahir di Jamaika kemudian pindah ke Amerik Serikat di usia 28 tahun, tepatnya pada 1917. Hal ini bertepatan dengan peristiwa kerusuhan berbasis rasisme di St Louis Timur, peristiwa yang menciptakan lingkungan ketakutan rasial di kalangan orang kulit hitam.
"Dengan bantuan murid-murid seperti ayah saya, Garvey, dari markas besarnya di Harlem City, New York, mengibarkan bendera kemurnian ras kulit hitam dan mendesak massa Negro untuk kembali ke tanah air leluhur mereka di Afrika –suatu alasan yang membuat Garvey menjadi pria paling kontroversial di dunia," tulis Malcom X di halaman pertama bab pertama autobiografinya.
Sebagai pendukung kuat nasionalisme kulit hitam dan kemandirian orang kulit hitam, Garvey menghadapi penganiayaan di tangan FBI dalam kasus dugaan penipuan melalui surat yang berkaitan dengan promosi Black Steamship Line (BSL).
Ajaran "agama hitam" dari Garvey selaras dengan banyak Muslim dan memengaruhi para pemimpin Nation of Islam.
Meskipun ia secara resmi seorang Katolik, keengganannya untuk secara terbuka mengungkapkan keyakinannya tetap menjadi misteri, tulis Profesor Samory Rashid dari Indiana State University, dalam bukunya 'Black Muslims in the US'.
"Namun demikian, moto UNIA tentang ‘Satu Tuhan, satu tujuan, satu takdir’ memiliki daya tarik khusus bagi umat Islam yang mungkin telah mengisi jajarannya dalam jumlah ribuan,” tulis Rashid.
Dia diusir dari Amerika Serikat pada 1927 dan meninggal di Inggris pada 1940. Jenazahnya dipindahkan ke Jamaika, tempat dia menjadi pahlawan nasional pertama bangsa.
Filosofi Garvey, yang berpusat pada kembalinya orang kulit hitam ke tanah air mereka yang asli, membantu mengarah pada penciptaan agama Rastafari. Rastafarian percaya bahwa Haile Selassie I, Kaisar Ethiopia yang memerintah antara 1930 hingga 1974, adalah seorang Dewa dan bahwa ia akan memfasilitasi kembalinya komunitas kulit hitam ke Afrika. Salah satu di antara pengikut Garvey adalah seorang pria bernama Elijah Muhammad.