Cara Warga Kampung Arab Surabaya Pertahankan Adat Timur Tengah

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis
Senin 08 Juni 2020 12:01 WIB
Kampung Arab Surabaya. (Foto: Nunung Tejo Purnomo/Arabnews)
Share :

Menurut Huub de Jonge, antropolog Belanda dan orang Indonesia dari Universitas Radboud Belanda Nijmegen, lebih dari 95 persen komunitas Arab di Indonesia bermula dari pedagang Hadhrami yang bermigrasi ke sana, menikahi wanita lokal, dan membentuk keluarga yang kemudian tersebar luas di sana. Selebihnya, orang Arab di Indonesia berasal dari Hijaz di Arab Saudi.

De Jonge menyebutkan hal ini tidak diketahui oleh banyak komunitas non-Arab di Indonesia, meskipun fakta bahwa banyak keturunan Arab telah banyak berada di tengah masyarakat Indonesia sebagai menteri dan pejabat pemerintah, pengusaha sukses, serta sebagai nasionalis yang berjuang melawan kolonialisme Belanda.

Kepada Arabnews, De Jonge menyebut komunitas Arab adalah kelompok minoritas asing terpenting kedua di Indonesia.

Dalam bukunya tentang Hadhrami Arab di Indonesia, 'Mencari Identitas: Arab Hadhrami di Indonesia' (1900-1950), De Jonge menulis bahwa nasionalis Abdul Rahman Baswedan, kakek dari Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, berasal dari Kampung Arab di Ampel.

Ketika seorang jurnalis berubah menjadi politikus pada dekade-dekade awal abad 20, Abdul Rahman Baswedan mengkritik hierarki kelas sosial dalam kelompok minoritas dan kepicikan di dalamnya.

Leluhur Baswedan berperan penting dalam pendirian Uni Arab Indonesia pada 1934 dan memperjuangkan integrasi Komunitas Hadhrami dengan masyarakat luas, mendesak komunitasnya mulai merujuk pada negara tempat mereka tinggal sebagai tanah air.

Lebih lanjut De Jonge mengatakan Komunitas Arab di Indonesia pada masa lalu memiliki kecenderungan berkumpul bersama. Hal ini utamanya disebabkan kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk membentuk kawasan tinggal bagi para imigran Hadhrami yang tiba di kota-kota pelabuhan di seluruh Nusantara.

"Seperti kebijakan pembatasan perdagangan untuk membatasi mobilitas mereka dan untuk mencegah pedagang Arab dari menyebarkan Islam karena mereka tidak suka umat Islam bersatu karena alasan politik, mengingat bahwa saat itu ada gerakan pan-Islamisme global," tambahnya.

Barulah pada 1920, pemerintah kolonial mengizinkan orang Arab keluar dari kawasan tempat tinggalnya. Kemudian berangsur menyebabkan tersebarluasnya orang Arab di berbagai tempat, seperti di daerah Pekojan Jakarta yang tidak lagi memiliki komunitas Arab yang masih membudaya.

Berbeda dengan Kampung Arab Surabaya, masyarakat di sana memilih tetap tinggal. Selain Jakarta dan Surabaya, daerah keturunan Arab lainnya di Indonesia berada di Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, tepatnya di tepi Sungai Musi.

Komunitas Arab, kata De Jonge, merupakan entitas kelompok yang kuat yang menjaga adat istiadat. Albatati mengatakan, adat pemakaman misalnya didanai oleh wakaf dari keluarga Arab, menugaskan sebidang tanah sebagai situs pemakaman untuk keturunan mereka, kerabat berdarah, dan mereka yang menjadi bagian dari komunitas melalui pernikahan.

Menurut De Jonge, orang-orang Arab yang bertahan di kuartal itu lebih konservatif dibandingkan dengan mereka yang berpindah, walaupun jika dibandingkan dengan komunitas Arab di luar Pulau Jawa, mereka lebih eksklusif karena berasimilasi dengan penduduk lokal dan etnis lainnya. Namun, mereka juga terus mempertahankan adat yang membuat menonjol.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya