SEBUAH rahasia kesejukan lantai Masjidil Haram di Makkah Al-Mukarramah, Arab Saudi terletak pada penggunaan marmer berjenis Thassos yang didatangkan khusus secara langsung dari daerah bagian utara Yunani.
Kandungannya yang tak sembarangan menyebabkan lantai ini tetap terasa dingin meski di tengah terpaan suhu dan cuaca panas yang seringkali melanda Arab Saudi, bahkan hingga menyentuh suhu ekstrem yakni 50 derajat Celsius.
Adalah Reasahal Haramain, sebuah lembaga yang menjadi aktor penting di balik dua bangunan masjid di dua kota suci, yakni Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Awal mula penggunaan lantai marmer ini pertama kali digunakan dalam proses pembangunan Masjidil Haram yang diarsiteki oleh Mohammad Kamal Ismail. Seorang profesor asal Mesir yang menolak dibayar sepeser pun atas jasanya mendesain dua masjid suci kebanggaan kaum muslimin itu.
Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan di Arabian Journal of Geosciences pada tahun 2018, lantai Masjidil Haram terbuat dari marmer khusus yang didatangkan langsung dari bagian utara Yunani, tepatnya dari daerah Thassos.
Baca juga: Wapres: Peradaban Islam Dibangun dari Masjid
Penamaan marmer ini diberikan sesuai dengan nama asalnya, yakni daerah Thassos, yang merupakan sebuah pulau di Yunani yang hanya memiliki luas wilayah 380 kilometer persegi. Pulau tersebut terletak di Laut Aegean paling utara, tepatnya seberang Pantai Makedonia Timur.
Di balik pulau yang menyimpan keindahan pantainya yang memanjakan mata, tersimpan rahasia kesejukan lantai Masjidil Haram. Sejak berabad-abad lamanya, marmer putih dari Pulau Thassos ini telah digunakan secara luas oleh orang-orang Romawi.
Dari sinilah batuan marmer Thassos dikenal sebagai marmer yang mampu memberikan kesejukan dan meredam hawa panas yang pada umumnya terserap ke lantai. Bentuknya kian istimewa dengan warna putih menyerupai Kristal dengan warna khas batuan alam.
Khusus untuk lantai Masjidil Haram, batuan marmer Thassos ini diimpor langsung dari Yunani menuju Saudi dalam bentuk yang masih asli berupa bongkahan batu marmer. Batuan alam tersebut diolah dan dibentuk secara khusus di Arab Saudi, barulah kemudian diaplikasikan pada lantai Masjidil Haram.
Marmer Thassos dibentuk menggunakan teknologi canggih, dengan pengawasan para ahli sehingga menghasilkan marmer berkualitas tinggi. Lantainya dipotong hingga berbentuk persegi panjang dengan ketebalan masing-masing 5 cm. tingkat ketebalan marmer turut mempengaruhi kesejukan lantai Masjidil Haram meskipun di tengah suhu yang panas.
Baca juga: Mengenal Kamal Ismail, Arsitek Masjidil Haram yang Menolak Bayaran Sepeser Pun
Pemasangan marmer Thassos ini dikerjakan oleh para tenaga profesional yang telah berpengalaman. Marmer dipasang secara presisi di setiap sudutnya untuk menjamin kenyamanan jemaah saat memijakkan kaki di atas lantai.
Marmer Thassos ini memiliki keunggulan menyerap kelembaban di malam hari dan mempertahankan suhu sejuk tersebut bahkan hingga siang hari saat cuaca sedang mencapai titik terpanasnya.
Inilah sebabnya para jamaah yang melaksanakan tawaf di siang hari tak risau harus berjingkat kaki karena kepanasan. Kesejukan yang diunggulkan dari marmer Thassos ini membuat para jamaah dapat beribadah dengan tenang nan nyaman.
Tak heran, dengan kualitas yang dimiliki, marmer jenis ini tergolong memiliki harga yang fantastis. Dilihat dari situs jual beli online, harga marmer Thassos ini ditaksir mencapai USD200 atau Rp2,8 juta per meter persegi.
Pemilihan kualitas yang begitu maksimal inilah yang kemudian membuat Masjidil Haram memiliki daya tari tersendiri bagi umat muslim dari penjuru dunia. Tak hanya karena memiliki Ka’bah di dalamnya yang merupakan kiblat umat Islam, bangunan masjid terbesar di dunia ini juga begitu megah dengan rancangan arsitektur dan material terbaik.
Siapapun yang pernah menyambangi Masjidil Haram pastilah akan takjub dengan kemegahannya. Meski letaknya dikelilingi lembah dan gunung-gunung tandus nan berbatu, namun Masjidil Haram berdiri megah nan kokoh bak permata yang berkilauan.
Segala hal terkait arsitektur maupun infrastruktur Masjidil Haram tentu dipikirkan secara detail oleh pemerintah Arab Saudi. Dirancang sedemikian rupa hingga mendekati sempurna, termasuk dalam memilih material khusus yang digunakan untuk sarana peribadatan di sekitar Ka’bah.
Selama ini tak sedikit anggapan yang mengatakan bahwa hawa sejuk di lantai Masjidil Haram diduga karena adanya mesin pendingin di bagian bawah lantai. Anggapan tersebut ialah sepenuhnya keliru. Hawa dingin yang dirasakan dari lantai itu ialah tak lain karena material lantai marmer yang digunakan tersebut.
(Rizka Diputra)