TAHUN ini majalah Suara Aisyiyah berusia 94 tahun jika dihitung dalam kalender Masehi, atau 97 tahun menurut kalender Islam. Dituntut oleh kemajuan zaman, majalah ini meluncurkan aplikasi pemberitaan yang dapat diunduh melalui telepon genggam.
Upaya ini menjadi bagian dari cara bertahan di tengah rontoknya media cetak dan cita-cita terus mendampingi perempuan Muhammadiyah dalam berkiprah.
Dalam diskusi webinar, pemimpin Redaksi Suara Aisyiyah, Adib Sofia menyebut, kiprah majalah ini sejak 1926 itu adalah bentuk jihad literasi, khususnya bagi perempuan.
“Sejak jaman dulu, jihad literasi menjadi spirit utama bagi eksistensi Suara Aisyiyah. Jihad literasi sebagai gerakan perjuangan Aisyiyah agar masyarakat dapat membaca dan memahami pengetahuan dan ilmu dengan benar,” ujarnya seperti dilansir dari VOAIndonesia, Selasa (14/7/2020).
Buta Huruf Hingga Post Truth
Suara Aisyiyah adalah majalah yang diterbitkan Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah. Edisi cetak tertua yang tersimpan sampai saat ini adalah terbitan Bulan Rajab 1345 atau 19 Januari 1927. Pada edisi itu, disebutkan bahwa Suara Aisyiyah telah terbit sejak 1926.
Hampir seratus tahun menemani perempuan dengan segala isunya, Suara Aisyiyah selalu membawa isu besar yang berbeda dalam dekade yang dilewati. Adib Sofia mencatat, pada edisi-edisi awal hingga era 1940-an, majalah ini banyak mengangkat upaya pemberantasan buta aksara. Aisyiyah memberikan perhatian besar pada isu kemampuan perempuan agar bisa menulis dan membaca.
Baca juga: Warga dari 160 Negara Daftar Haji Tahun Ini
Dekade selanjutnya, hingga era 1950-an, Suara Aisyiyah memuat banyak isu terkait upaya melek diri. Majalah ini mendorong perempuan agar mengenal jati dirinya, berupaya keras memberantas kebodohan, menyebarkan pengetahuan sekaligus mendorong pemahaman akan kesetaraan dengan laki-laki.
Pada dekade 1960-an, Suara Aisyiyah mengajak perempuan melek masalah. Gerakan yang diprioritaskan adalah ajakan pada perempuan agar peduli terhadap masalah yang ada di sekitarnya. Suara Aisyiyah mendorong perempuan keluar rumah dan terlibat dalam berbagai persoalan sosial yang terjadi.
“Akhir-akhir ini merupakan melek jaman, artinya sudah berganti menjadi pertarungan pemikiran, perdebatan. Kita masuk pada hiperrealitas, persoalan post truth, manusia lebih percaya apa yang diyakini bukan fakta yang ada. Suara Aisyiyah harus ikuti perkembangan zaman itu. Dunia sudah berubah, maka kita harus berubah,” tutur Adib.
Untuk menjawab tantangan zaman, Suara Aisyiyah telah merambah daring. Mulai Sabtu (11/7), upaya itu diperluas dengan penyediaan aplikasi melalui Playstore. Adib Sofia menyebut, langkah ini ditempuh untuk menjawab aspirasi pembaca yang ingin memperoleh bacaan lebih cepat dan mudah. Dengan pertimbangan sebagian pembaca perempuan yang tetap lebih nyaman dengan edisi cetak, maka penerbitan bulanan tetap dilakukan.
Mewarnai Dakwah Digital
Meski terlambat, ekspansi Suara Aisyiyah dalam format digital ini diapresiasi Direktur Pemberitaan Medcom, Abdul Kohar. Apresiasi itu dia sampaikan dalam diskusi daring "Arah dan Tantangan Media Dakwah di Era Digital," pada Sabtu (11/7) yang diselenggarakan penerbit majalah tersebut.
Abdul Kohar mengatakan, banyak alasan dakwah di dunia daring harus dilakukan. Meski begitu, lanjutnya, penerbitan edisi cetak majalah Suara Aisyiyah sebaiknya tetap dipertahankan. Meski pembacanya berkurang, sejauh ini, format cetak adalah penjaga kredibilitas sebuah penerbitan.
“Jadi catatan bagi produk-produk cetak, apakah dia majalah atau koran, itu kemenangannya adalah pertarungan kredibilitas. Mengapa seperti itu terjadi, karena orang-orang koran itu memang dididik, terbiasa untuk bekerja dalam spirit intelektualitas, belajar, mendalami,” kata Abdul Kohar.