Meski begitu, Rasulullah tetap mendoakan dan meminta pengampunan untuk pamannya tersebut kepada Allah SWT. Akan tetapi, perkataan Nabi itu dibantah oleh Allah SWT lewat firmannya, Surat At-Taubah ayat 113.
“Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat (nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahanam.” (Q.S. At-Taubah : 113).
Nabi Muhammad SAW sadar bahwa hanya Allah SWT yang mampu memberikan hidayah kepada hambanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran Surat Al-Qasas ayat 56.
“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.S. Al-Qasas : 56).
Allah SWT memperbolehkan Nabi Muhammad SAW untuk memberikan syafaatnya kepada Abu Thalib. Meskipun beliau meninggal dalam keadaan kafir. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al-Muddasir ayat 48.
“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafaat.” (Q.S. Al-Muddasir : 48).
(Vitrianda Hilba Siregar)