“Di situlah kemudian Adam alaihi salam mengawali tawaf, maka tawaf di Ka’bah pada hari ini adalah sesuatu yang sifatnya sangat lama, yaitu sejarah Adam alaihi salam. Jadi apa makna yang kita petik dari potongan kisah itu adalah, bahwa permasalahan yang dihadapi umat manusia di dalam hidupnya bukan menyangkut fasilitas infrastruktur kehidupan,” jelas Fathurrahman.
“Persoalan fundamental manusia bukan infrastruktur yang kemudian di sejarah peradaban, manusia saling membunuh untuk mencapai materi-materi. Padahal sejarah Adam, bukan masalah makan dan kehidupan, tapi adalah permasalahan ruhaniyah. Itulah yang dicari Adam alaihi salam,” pungkasnya.
(Vitrianda Hilba Siregar)