Puasa di Tengah Pendemi, Memaksa Kita Menjadi Lebih Baik

Tim Okezone, Jurnalis
Senin 03 Mei 2021 10:43 WIB
M. Mas'ud Said (Foto:Dok)
Share :

Dalam bulan penuh hikmah, kita harus penuh harapan. Sebagaimana intisari buku karya Aidh al Qarnie yang berjudul Laa Tahzan, jangan bersedih. Buku yang berbahasa Arab tersebut mengajak kita untuk optimis, Al Qarnie mengutip doa Nabi Musa AS, yaa Allah yaa Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku sebagaimana dalam Qs Thaha ayat 25-26. Rabbisrohli shadri wayassirli amri.

Semua sedang diuji dengan ujian yang menggelisahkan. Sistem sosial yang terbangun ratusan tahun khususnya sistem sosial berkerumun seakan runtuh. Apakah kita boleh putus asa?. Jawab walaa taiazuu, mirrauhillah. Laa tahzan, innallaha maana, ini adalah jalan Allah untuk merubah.

Secara spiritual jangan jangan kemarin itu kita lalai sebagai individu, keliru sebagai anggota keluarga, belum amanah sebagai abdillah dan wakil Allah di bumi, masih defisit sebagai hamba. Inilah masanya Allah SWT memaksa manusia di abad ini sedikit undur dari gejala kebodohan dan kecongkakan yang dalam Al Qur’an dikenal sebagai dlolaalan baiida, kesesatan yang nyata.

Kita paksa diri ke arah kebaikan

Cukuplah kiranya pengingat itu. Laksana cerita ummat ummat terdahulu yang lupa, kita seperti dipaksa berbelok arah ke arah kebaikan. Puasa dan Covid-19 adalah cambuk sekaligus tali pengarah. Sesungguhnya kalau pandai berhitung, kita ini defisit, merugi, kecuali bertaubah dengan puasa, shalat, zakat dan sedekah.

Kita tak henti hentinya diberi rizky, karunia ilmu pengetahuan, rizki kesehatan, kesehatan tangan, kesehatan kaki, kesehatan mata, kesehatan indera perasa, indera pendengaran, karunia harta, karunia kemerdekaan, karunia keutuhan keluarga, karunia udara yang bebas lebih banyak nilainya dari kesulitan PPKM atau beban lainnya.

Untung puasa tiba lagi. Kita sudah setahun dilatih “membungkam sebagian mulut kita” dengan masker dzikir, kita sudah setahun lebih terlatih agar uzlah menyendiri. Kita telah dilatih Allah SWT melalui Covid-19 untuk merubah diri, menahan diri. Kita dapat pelajaran keras bahwa “keadaan seseorang” bisa menular ke keluarga, menulari kawan dan menulari saudara.

Kita harus “menjaga jarak” dari dosa, maksiat dan syaitan dunia yaitu pekerjaan, nama baik dan jabatan yang palsu adanya. Kalau kita punya tangan kotor kita harus membasuh dan bersesuci dengan jalan mencuci tangan kita dari dosa dan masiat. Kita sudah dilatih untuk mencari rejeki dan menggunakannya secara bersih pula. Puasa tahun ini, di masa pandemic ini sangat istimewa. Kita dipaksa tidak berkerumun dalam kesesatan dunia.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya