JAKARTA - Bayar zakat fitrah ternyata terbagi menjadi tiga waktu. Zakat fitrah sendiri, merupakan hal wajib untuk dilakukan bagi umat Islam di Ramadan sebelum Idul Fitri.
Biasanya, selama melakukan ibadah puasa, seorang muslim sering melakukan perkara yang dapat mengurangi nilai puasa, maka dengan hikmah-Nya, Allah SWT mensyariatkan zakat fitrah untuk lebih menyempurnakan puasa.
Atas dasar itulah, sangat penting untuk memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan zakat fitrah.
Dikutip dari Almanhaj, Selasa (19/4/2021), Ustadz Abu Isma’il Muslim al Atsari menjelaskan, saat menunaikan zakat fitrah maka perlu memperhatikan waktunya.
Adapun waktu mengeluarkan zakat fitrah terbagi dalam beberapa macam, antara lain:
1. Waktu wajib
Maksudnya, yaitu waktu jika seorang bayi dilahirkan, atau seseorang masuk Islam sesudahnya, maka tidak wajib membayar zakat fithri. Dan jika seseorang mati sebelumnya, maka tidak wajib membayar zakat fitrah.
Jumhur ulama berpendapat, waktu wajib membayarnya adalah, tenggelamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadhan. Namun Hanafiyah berpendapat, waktu wajib adalah terbit fajar Idul Fitri.
2. Waktu afdhal
Artinya adalah waktu terbaik untuk membayar zakat fithri, yaitu ketika fajar hari Id, dengan kesepakatan empat madzhab.
3. Waktu boleh
Waktu yang seseorang dibolehkan membayar zakat fitrah. Tentang waktu terakhirnya, para ulama bersepakat, bahwa zakat fithrah yang dibayarkan setelah sholat Id, dianggap tidak berniali sebagai zakat fitrah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ
“Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perkataan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (‘Id), maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat (Id), maka itu adalah satu shadaqah dari shadaqah-shadaqah“. (HR Abu Dawud, no. 1609; Ibnu Majah, no. 1827, dan lain-lain]).
Apakah boleh dibayar sebelum hari Id? Dalam masalah ini, terdapat beberapa pendapat.
- Abu Hanifah rahimahullah: “Boleh maju setahun atau dua tahun”.
- Malik rahimahullah: “Tidak boleh maju”.
- Syafi’iyah: “Boleh maju sejak awal bulan Ramadhan”.
- Hanabilah: “Boleh sehari atau dua hari sebelum ‘Id”.
Pendapat terakhir inilah yang banyakj dipegang, karena sesuai dengan perbuatan Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, sedangkan beliau adalah termasuk sahabat yang meriwayatkan kewajiban zakat fitrah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallm.
Nabi berkata;
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُعْطِيهَا الَّذِينَ يَقْبَلُونَهَا وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ
“Dan Ibnu ‘Umar biasa memberikan zakat fithri kepada orang-orang yang menerimanya, mereka itu diberi sehari atau dua hari sebelum fithri“. (HR Bukhari, no. 1511; Muslim, no. 986).
(Ahmad Muhajir)