TIDAK banyak muslim yang dapat menjadi sebaik-baiknya manusia di dunia ini. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam bersabda bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang belajar Alquran. Tak berhenti sampai di situ, Nabi Shallallahu alaihi wassallam lebih lanjut mengatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah orang yang juga mau mengajarkan Alquran.
Ustadzah Nurjannah mungkin adalah salah satu manusia langka yang dimaksud Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam tersebut. Ia adalah seorang pengajar Alquran di Dusun Karang, Desa Terbah, Patuk, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tak tanggung-tanggung, ia bersedia pontang-panting ke sebelas titik berbeda untuk mengajarkan kalam-kalam Allah Subhanahu wa ta'ala yang mulia tersebut.
Salah satu hal yang luar biasa dari Ustadzah Nurjannah adalah keikhlasannya dalam mengajarkan Alquran. Selama ini, ia bolak-balik ke beberapa titik hanya untuk membuka mata setiap murid-muridnya akan firman-firman Allah Subhanahu wa ta'ala.
Tak pernah sepeser pun ia meminta upah untuk setiap keringat yang ia cucurkan. Semuanya, ia lakukan hanya karena ingin memperoleh rida dari Sang Maha Pemberi, Allah Subhanahu wa ta'ala.
Berkat bantuan dan izin Allah Subhanahu wa ta'ala, ternyata perjuangannya disambut dengan positif. Banyak masyarakat –mulai dari anak kecil, remaja, dewasa, hingga lansia– yang tertarik memperlajari Alquran.
Hal ini pun membuat Ustadzah Nurjannah semakin bersemangat. Tak seperti orang kebanyakan, baginya bahagia itu sederhana: melihat antusias masyarakat belajar Alquran.
“Senang sekali mendapat respon yang baik dari masyarakat,” ungkapnya haru.
Namun, apa yang dilakukannya selama ini bukan berarti tanpa kesulitan sedikit pun. Setidaknya, ia mengungkapkan, ada dua kesulitan yang ia rasakan. Pertama, kurangnya tenaga pengajar Alquran di tempatnya mengajar.
Namun, hal ini tak membuatnya menyerah. Ia kemudian berinisiatif untuk menjadikan murid-muridnya yang sudah fasih membaca Alquran sebagai guru yang membantunya mengajar.