Tidak tinggal diam, sang putri pun langsung mengadukan hal tersebut kepada ayahnya. Mendengar penjelasan sang putri, Firaun kemudian marah besar dan langsung memanggil Masyitah datang ke hadapannya.
Ketika Masyitah hadir, Firaun langsung menginterogasinya dan dipaksa mengaku kalau sudah mengikuti ajaran Nabi Musa dan Harun Alaihissallam.
"Hai Masyitah, kudengar dari putriku, kau dan seluruh keluargamu telah mengikuti ajaran Musa dan Harun! Benarkah berita itu?" tanya Firaun.
"Benar! Aku dan seluruh keluargaku telah menjadi pengikut Musa. Ketahuilah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah! Termasuk dirimu!" terang Masyitah.
Mendengar hal itu, Firaun menjadi murka. "Baiklah, kalau kau tetap pada pendirianmu. Kamu dan keluargamu akan dimasukkan ke kuali itu," kata Firaun sambil menunjuk ke sebuah kuali besar berisi air mendidih.
"Azab Allah di akhirat lebih aku takutkan, daripada hukumanmu," jawab Masyitah.
Ternyata ancaman Firaun tidak bukanlah omong kosong. Satu per satu keluarga Masyitah mulai dimasukkan ke kuali. Sampai akhirnya giliran anaknya yang masih bayi. Kala itu iman Masyitah mulai diuji dengan rasa sayang seorang ibu.
Akan tetapi keajaiban terjadi, bayi Masyitah tiba-tiba dapat berbicara. "Wahai Ibu! Janganlah engkau ragu. Sesungguhnya engkau di jalan yang benar. kelak kita akan berkumpul lagi di dalam surga Allah yang penuh kenikmatan."