KETAHUI amalan hari Jumat untuk wanita Muslim berikut ini. Bisa menambah amalan salih dan meraih pahala luar biasa besar dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pasalnya Jumat merupakan hari penuh berkah yang memiliki banyak kebaikan dari Allah Ta'ala.
Dikutip dari nu.or.id, Jumat merupakan hari yang sangat spesial bagi umat Islam. Dalam beberapa referensi disebutkan bahwa Jumat merupakan hari yang paling utama dalam sepekan dan malamnya merupakan malam yang paling utama setelah Lailatul Qadar.
BACA JUGA:8 Sunnah di Hari Jumat: Baca Surat Al Kahfi hingga Larangan ketika Menyimak Khotbah
Pada hari Jumat, Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan Nabi Adam Aalaihis Salam. Pada hari itu pula Allah Ta'ala mempertemukan Nabi Adam dengan Hawa di Muzdalifah. Pertemuan itulah yang menjadi dasar penamaan dari hari Jumat (yang berarti berkumpul).
Al-Qhutb al-Ghauts Sayyid Abdullah bin Alwi al-Haddad, sebagaimana dikutip Syekh Abu Bakr bin Syatha, menyatakan:
ـ (واعلم) أسعدك الله أن يوم الجمعة سيد الأيام وله شرف عند الله العظيم وفيه خلق الله أدم عليه السلام وفيه يقيم الساعة وفيه يأذن لأهل الجنة في زيارته والملائكة تسمى يوم الجمعة يوم المزيد لكثرة ما يفتح الله فيه من أبواب الرحمة ويفيض من الفضل ويبسط من الخير وفي هذا اليوم ساعة شريفة يستجاب فيها الدعاء مطلقا وهي مبهمة في جميع اليوم كما قاله الإمام الغزالي وغيره. ـ
Artinya: "Ketahuilah (semoga Allah membahagiakanmu) bahwa hari Jumat merupakan pimpinan hari-hari, hari Jumat mempunyai kemuliaan di sisi Allah yang Maha Agung, pada hari itu Allah menciptakan Nabi Adam ‘Alaihis salam, pada hari itu Allah mendatangkan kiamat, pada hari itu Allah memberikan izin bagi penduduk surga untuk berziarah kepada-Nya, para malaikat menamakan hari Jumat dengan nama Yaumul Mazid (hari tambahan), karena Allah banyak membuka pintu rahmat dan mencurahkan anugerah serta menyebarluaskan kebaikan-Nya, pada hari itu ada satu waktu yang mulia di mana doa pasti dikabulkan dan satu waktu tersebut disamarkan di dalam hari Jumat sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Imam al-Ghazali dan selainnya." (Syekh Abu Bakr bin Al-Sayyid Muhammad Syatha al-Dimyati, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 2, halaman: 63, Dar Al-Fikr)
Keutamaan Jumat berkaitan erat dengan aktivitas-aktivitas tertentu yang secara khusus dianjurkan untuk dilakukan di hari itu. Sebagian orang beranggapan bahwa keutamaan hari Jumat adalah hal yang dikhususkan untuk kaum laki-laki, hal ini disebabkan pelaksanaan Sholat Jumat identik dengan kaum Muslim sehingga bagi perempuan tidak mempunyai keutamaan apa pun di hari mulia itu.
Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar, sebab ada beberapa aktivitas/amaliyyah utama di hari Jumat yang juga dapat dilakukan oleh perempuan, bahkan sebagian besar amaliah-amaliah utama di hari Jumat tidak terkhusus bagi kaum lelaki.
Berikut ini amalan yang juga disarankan untuk wanita pada hari Jumat.
BACA JUGA:Surat Al Kahfi Lengkap 110 Ayat, Sunnah Dibaca Setiap Jumat Berkah
1. Mandi Jumat
Mandi Jumat merupakan amaliah sunnah yang khusus dilakukan pada hari Jumat, kesunnahan ini berlaku umum bagi siapa pun yang menghadiri ibadah Sholat Jumat.
Ditegaskan dalam hadits riwayat Ibnu Hibban dari Ibnu Umar sebagai berikut:
من أتى الجمعة من الرجال والنساء فليغتسل
Artinya: "Barang siapa yang mendatangi Sholat Jumat baik laki-laki maupun wanita maka hendaklah mandi."
Seorang perempuan dalam konteks ini juga mendapatkan kesunahan mandi Jumat apabila turut serta melaksanakan ibadah Jumat. Ketentuan hukum ini menjadi berbeda bila ia memilih Sholat Dhuhur di rumah, maka tidak lagi disunnahkan baginya.
Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani menyatakan:
وأما آداب الجمعة فكثيرة منها أنه (سن لمريدها) أي لمن أراد حضور الجمعة (غسل) وإن لم تجب عليه بل وإن حرم عليه الحضور كامرأة بغير إذن حليلها على المعتمد
Artinya: "Sedangkan etika dalam Sholat Jumat itu banyak, salah satunya adalah disunnahkan bagi orang yang menghendaki untuk mendatangi Sholat Jumat untuk mandi, walaupun Sholat Jumat tidak diwajibkan baginya bahkan walaupun haram baginya untuk mendatangi Sholat Jumat seperti perempuan yang tidak mendapatkan izin dari suaminya menurut pendapat mu’tamad (kuat)." (Syekh Nawawi al-Bantani, Nihayah az-Zain, halalan: 142, Al-Haramain)