JEDDAH - Jumlah jamaah haji Indonesia yang meninggal dunia hingga pelayanan hari ke-29 mencapai 103 jamaah.
Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari jamaah yang meninggal di Madinah 32 jamaah di madinah, 68 orang di Makkah dan 3 di Madinah. Sampai sekarang ini, sudah 514 kloter dengan 194.536 jamaah yang mendarat di Arab Saudi.
Dari jumlah tersebut, 25 jamaah meninggal berasal dari embarkasi SUB (Surabaya), 17 dari embarkasi SOC (Solo Yogyakarta), 16 dari JKS (Jakarta-Bekasi), 14 embarkasi JKG (Jakarta Pondok Gede) sisanya tersebar di embarkasi lain, seperti UPG (Ujung Pandang), KNO (Kualanamu), PLM (Palembang).
BACA JUGA:
Sementara berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, sebagian besar jamaah meninggal disebabkan karena serangan jantung, berdasarkan data yang terakhir dirilis pada Selasa (20/6) pukul 08.00 WAS saat jumlah masih 97 jamaah. Rinciannya, 32 kasus kasus infark miokad akut, 21 syok kardio genik, dan 5 disebabkan stroke.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah KKHI Makkah Aditya mengatakan, syok kardiogenik adalah salah satu fase akhir dari serangan jantung yang ditandai dengan kurangnya perfusi atau aliran darah ke organ tubuh akibat menurunnya curah jantung.
"Syok kardiogenik tidak terjadi dengan serta merta, ada beberapa faktor pemicu, terutama pada jamaah haji dengan risiko tinggi," katanya kepada Media Center Haji (MCH).
Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haj (PPIH) Arab Saudi Subhan Cholid mengharapkan jamaah mengurangi ibadah sunnah yang menguras tenaga. Jamaah haji Indonesia diimbau mengurangi aktivitas fisik jelang puncak haji.
"Sekarang posisi sudah berbalik dibanding beberapa hari lalu. Kalau sebelumnya jumlah yang meninggal di dominasasi jamaah di bawah 65 tahun. sekarang sudah 55 persennya di atas 65 tahun," ujar Subhan.