MAKKAH - Ibu Jujun memeluk dua petugas pelaksana ibadah haji Daker Bandara secara bergantian sambil mengucapkan terima kasih. Padahal sebelumnya dia sempat repot karena tidak diizinkan membawa tas jinjing dan kantong plastik berisi makanan dan beberapa lembar pakaian.
Dia akhirnya bisa meninggalkan plaza B2 Bandara King Abdul Azis, Jeddah menuju ke imigrasi untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Tanah Air setelah menjalankan ibadah haji. Ibu Jujun masuk dalam rombongan gelombang pertama jamaah haji yang pulang Senin (3/7/2023).
Di sebelah Bu Jujun, ada Ibu Faizah yang masih bingung memilih mana yang harus dibawa dan ditinggal. Selain satu koper bagasi, tas ransel, dia juga membawa tas jinjing, dan dua kantong plastik. Semuanya ada isinya. Dia mulai tampak kepayahan dalam memilih.
Saat yakin sudah beres dengan membuang kantong plastik, jamaah dari Embarkasi Jakarta Pondok Gede itu ternyata masih menyisakan satu tas ransel penuh dan tas jinjing bertuliskan Makkah. Jumlah yang masih belum dalam batas toleransi maskapai Saudi Airlines.
"Hanya satu koper, satu tas paspor ya Bu," kata petugas dari maskapai tersebut.
Lain lagi dengan seorang jamaah yang memilih beradu argumen dengan pihak petugas maskapai. Dia merasa tidak mendapatkan informasi terkait kapasitas barang yang dibawa.
"Harusnya diumumkan Pak, kalau gini kan sayang semua terbuang," katanya dengan nada sedikit meninggi.
Maskapai mengatakan bahwa informasi tentang batasan barang yang dibawa sudah disampaikan ke ke ketua rombongan, ketua kloter dan juga disampaikan media.
Dari awal PPIH telah mengimbau jamaah untuk tidak membawa barang berlebihan. Jamaah hanya diizinkan membawa satu koper kabin dan tas paspor hitam. Bobot tas kabin pun dibatasi 7 kg.
"Barang nanti disita dan jadi barang yang tidak berguna," kata Kadaker Bandara Haryanto.
(Erha Aprili Ramadhoni)