Terkait dengan orang yang terakhir masuk surga, Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam juga menyampaikan salah satu kriteria orang tersebut dalam sebuah hadits dari Ath-Thabrani yang mengatakan diberi tahu Abdulullah ibn Sa’ad ibn Yahya Ar-ruqi, yang diberi tahu Abu Farurah Yazid ibn Muhammad ibn Sinan ar-Rahawi, yang diberi tahu ayahnya, dari ayahnya yang diberi tahu Abu Yahya al-Kala'i, dari Abu Umamah yang mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:
"Sesungguhnya orang yang terakhir memasuki surga adalah orang yang jatuh saat melewati sirathal mustaqim, sebagaimana anak kecil yang dipukul ayahnya dan dia berlari. Amal perbuatannya lemah untuk mengusahakannya terbebas dari neraka sekaligus. Setelah itu, orang itu mengatakan, 'Ya Allah sampaikanlah aku ke surga dan bebaskanlah aku dari neraka.'
Allah berfirman, 'Wahai hamba-Ku! Aku selamatkan kamu dari neraka dan memasukkan kamu ke surga. Apakah engkau mengakui dosa dan kesalahanmu?'
Hamba tadi menjawab, 'Ya Allah! Demi keagungan-Mu! Jika engkau membebaskanku dari neraka, maka aku akan mengakui semua kesalahan dan dosaku. Jika aku mengakui dosa-dosa dan kekeliruanku, saya khawatir kembali masuk neraka.'
Kemudian Allah berfirman, 'Akuilah dosa-dosa dan kekeliruanmu, niscaya aku akan mengampunimu dan memasukkanmu ke dalam surga.'
Hamba itu berkata lagi, 'Demi keagungan-Mu! Saya tak pernah berdosa, dan tidak pernah melakukan kesalahan.'
Allah pun membalas, 'Hamba-Ku! Aku punya bukti tentangmu.' Orang itu kemudian menengok ke kanan dan kiri, namun tidak melihat siapa pun.
Hamba itu berkata, 'Ya Allah! Datangkanlah saksi Anda! Allah menyuruh kulit orang tadi berbicara.' Hamba tadi mengatakan, 'Demi Allah! Sesungguhnya saya punya banyak dosa besar. Aku mengetahui hal tersebut darimu yang mengakuinya, aku pun mengampunimu. Masuklah ke surga!'
Setelah kejadian itu, hamba tersebut akhirnya mengakui dosa-dosanya, lalu dimasukkan ke dalam surga. Kemudian Rasulullah tertawa hingga terlihat gusinya sembari berkata, 'Itu kondisi penghuni surga tingkatan terbawah. Bagaimana dengan kondisi penghuni surga tingkatan yang lebih tinggi'."
Sebagai seorang Muslim, wajib mengimani hadits tersebut, sebagai bagian dari konsekuensi dua kalimat syahadat yang mengakui Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Sebab berita yang Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam sampaikan, pasti dari wahyu. Sementara umat Islam tidak boleh berbicara yang ghaib tanpa dalil shahih.
Wallahu a'lam bisshawab.
(Hantoro)