BENARKAH lokasi kapal Nabi Nuh Alaihissallam ada di Armenia? Ayat suci Alquran menceritakan banjir terbesar sepanjang sejarah manusia yang terjadi pada zaman Nabi Nuh. Banjir tersebut menenggelamkan serta menghapus semua peradaban manusia ketika itu.
Dalam buku "Tafsir Ilmi: Air dalam Perspektif Alquran dan Sains" yang disusun Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap mengenai bencana akibat air.
Besarnya banjir pada zaman Nabi Nuh Alaihissallam dilukiskan dengan tergenangnya permukaan planet bumi dan tenggelamnya gunung-bunung yang berlangsung dalam waktu yang lama. Banjir itu muncul dari air yang jatuh dari langit maupun yang memancar dari dalam bumi.
"Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku," demikian isi Alquran Surat Al Qamar Ayat 11–13.
Para ahli pengetahuan alam saat ini masih sulit menerangkan asal-muasal air tersebut. Sebagian orang, terutama yang merujuk pada Injil dan kitab Perjanjian Baru, menafsirkan bahwa banjir Nabi Nuh Alaihissallam menggenangi seluruh permukaan bumi.
Sementara sebagian ahli lainnya, misalnya Harun Yahya, percaya bahwa hanya sebagian permukaan bumi yang tergenang banjir.
Sebagian permukaan bumi itu adalah daerah yang sudah dihuni umat manusia, yaitu di daerah Timur Tengah. Meskipun hanya sebagian permukaan bumi yang tergenang banjir ketika itu; luas, kedalaman, dan lamanya banjir melukiskan air yang sangat besar yang sulit diterangkan dari mana datangnya air.
"Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera," isi Alquran Surat Al Haqqah Ayat 11.
Allah memerintahkan kepada Nabi Nuh Alaihissallam untuk menaikkan ke atas perahu pasangan-pasangan dari setiap spesies, jantan dan betina, serta keluarganya. Seluruh umat manusia di daratan tersebut ditenggelamkan ke dalam air, termasuk anak laki-laki Nabi Nuh yang semula berpikir bahwa dia bisa selamat dengan mengungsi ke sebuah gunung yang dekat.
Semuanya tenggelam, kecuali yang dimuat di dalam perahu bersama Nabi Nuh Alaihissallam. Ketika air surut di akhir banjir tersebut, dan kejadian telah berakhir, perahu terdampar di Judi, yaitu sebuah tempat yang tinggi, sebagaimana yang diinformasikan dalam Alquran.
"Dan difirmankan: 'Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,' dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: 'Binasalah orang-orang yang zalim'," demikian isi Alquran Surat Hud Ayat 44.
Studi arkeologis, geologis, dan historis menunjukkan bahwa banjir tersebut terjadi dengan cara yang sangat mirip dan berkaitan dengan informasi ayat suci Alquran.
Banjir itu juga digambarkan secara hampir mirip di dalam beberapa rekaman atas peradaban-peradaban masa lalu di dalam banyak dokumen sejarah, meski ciri-ciri dan nama-nama tempat bervariasi.
Daratan Mesopotamia diduga kuat sebagai lokasi banjir pada masa Nabi Nuh Alaihissallam terjadi. Wilayah ini diketahui sebagai tempat bagi peradaban tertua dalam sejarah.
Apalagi dengan posisinya yang berada di antara Sungai Tigris dan Eufrat, tempat ini sangat memungkinkan terjadinya banjir yang sangat besar.
Di antara faktor penyebab terjadinya banjir kemungkinan adalah meluapnya aliran kedua sungai itu, sehingga membanjiri wilayah tersebut. Bukit Judi yang disebutkan pada ayat di atas terletak di Armenia.
Tampak bahwa banjir pada zaman Nabi Nuh Alaihissallam tersebut meliputi daerah yang membentang dari Armenia hingga Iran-Irak.
Wallahu a'lam bisshawab.
(Hantoro)