Awal Ramadan 1447 H Berpotensi Berbeda, MUI Minta Umat Islam Sikapi dengan Dewasa

Rahman Asmardika, Jurnalis
Senin 16 Februari 2026 13:28 WIB
Ilustrasi.
Share :

JAKARTA — Perbedaan metode penentuan membuat adanya potensi perbedaan awal Ramadan 1447 H di antara umat Islam Indonesia. Terkait hal ini, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis meminta umat untuk menyikapinya dengan dewasa.

"Hampir dipastikan berpotensi berbeda, mengawali Ramadan ini kita berbeda. Karena sudah ada yang menetapkan awal Ramadan pada 18 Februari ini, menggunakan hisab sekaligus kalender global," kata Kiai Cholil sebagaimana dilansir MUI Digital, Senin (16/2/2026).

Metode lain yang digunakan adalah hisab sekaligus metode imkan rukyat, yang kemungkinan bisa dilihat dari terbenamnya matahari. Namun, dengan metode ini ada kemungkinan hilal tak dapat diamati sehingga menghasilkan penetapan awal Ramadan 1447 H yang berbeda.

Kiai Cholil menerangkan, kemungkinan posisi derajat hilal masih berada di bawah 3 derajat. Sementara ketentuan Mabims—yakni ulama-ulama yang tergabung dalam forum ulama Asia Tenggara: Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam—menyepakati bahwa hilal bisa dilihat jika sudah berada di atas 3 derajat.

 

"Jadi bisa dipastikan awal Ramadan kita ini akan berbeda. Ada yang tanggal 18 dan ada yang tanggal 19 Februari. Saya berharap semuanya memaklumi hal ini. Yang penting kita bisa menjalankannya dengan baik dan khusyuk," ungkapnya.

Kiai Cholil menekankan agar umat jangan sampai ada gesekan yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah, dan kembali menegaskan pentingnya ukhuwah tersebut sebagai jalan menuju kedekatan umat Islam kepada Allah SWT.

"Saya berharap masyarakat sudah dewasa. Ini masalah khilafiyah fikih, masalah perbedaan pemikiran. Tidak perlu dibawa pada perpecahan, tetapi jadikanlah perbedaan ini untuk kita belajar lebih banyak," sambungnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menerangkan pembelajaran itu seperti kajian tentang wihdatul mathali’ dan sa’atul mathali’, yakni bagaimana melihat bulan berdasarkan lokasi masing-masing.

 

"Ada yang menganggap seluruh dunia adalah satu kalender, satu mathla’, satu tempat terlihatnya bulan. Sehingga di satu negara yang melihat, bisa di sini juga sama-sama dianggap melihat dan memulai puasa," terangnya.

Kiai Cholil mempersilakan umat Islam untuk mempelajari hal itu sebagai bahan motivasi dan belajar ilmu. Namun, dia menegaskan pelajaran dan perbedaan yang ada jangan sampai dijadikan perpecahan.

"Tapi jadikan ikhtilaf ummati rahmat. Menjadi rahmat bagi kita untuk belajar lebih banyak," tegasnya.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya