Pentingnya merawat kondisi batin ini ditegaskan oleh Rasulullah saw, hati adalah pusat komando seluruh aktivitas tubuh. Baik buruknya perilaku kita pasca-Ramadhan sangat bergantung pada kondisi segumpal darah ini. Nabi saw bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: “Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ingatlah, ia adalah hati.” (HR Al- Bukhari dan Muslim).
Tanda hati yang hidup di akhir Ramadhan adalah adanya rasa takut amal tidak diterima, sekaligus rasa rindu yang mendalam karena akan berpisah dengan bulan mulia ini.
Ibnu Rajab al-Hanbali menggambarkan bagaimana para Salafus Shalih sangat khawatir pada nasib amal mereka. Beliau mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib ra:
كُونُوا لِقَبُولِ الْعَمَلِ أَشَدَّ اهْتِمَامًا مِنْكُمْ بِالْعَمَلِ، أَلَمْ تَسْمَعُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Artinya: “Jadilah kalian orang yang lebih mementingkan diterimanya amal daripada banyaknya amal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: 'Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (Latha’iful Ma’arif, [Beirut, Dar Ibn Hazm:1424 H], halaman 209).