Inilah ciri hati yang hidup. Tidak bangga dengan banyaknya puasa dan tarawih, melainkan cemas apakah persembahan itu layak diterima Sang Raja. Bahkan, Ibnu Rajab menyebutkan syair yang menyayat hati tentang perpisahan dengan Ramadhan:
كَيْفَ لَا تَجْرِيْ لِلْمُؤْمِنِ عَلَى فِرَاقِ رَمَضَان دُمُوْعٌ، وَهُوَ لَا يَدْرِيْ هَلْ بَقِيَ لَهُ في عُمرِهِ إليه رُجُوعٌ
Artinya: “Bagaimana bisa air mata seorang mukmin tidak menetes saat berpisah dengan Ramadhan, sementara ia tidak tahu apakah di sisa umurnya masih ada kesempatan untuk kembali bertemu Ramadhan?” (Al-Hanbali, 217).
Sering kali kita bertanya, mengapa hati yang terasa begitu bening dan lembut saat Ramadhan, tiba-tiba kembali keras dan gersang begitu Syawal tiba?
Imam al-Ghazali memberikan analogi yang sangat cerdas untuk menjawab fenomena ini. Ia mengibaratkan hati manusia seperti sebuah cermin. Ketaatan adalah alat pemolesnya, sedangkan dosa adalah asap hitam yang menutupinya. Ia menulis:
فَطَاعَةُ اللهِ سُبْحَانَهُ بِمُخَالَفَةِ الشَّهَوَاتِ مِصْقَلَةٌ لِلْقَلْبِ. وَأَمَّا الْآثَارُ الْمَذْمُومَةُ فَإِنَّهَا مِثْلُ دُخَانٍ مُظْلِمٍ يَتَصَاعَدُ إِلَى مِرْآةِ الْقَلْبِ
Artinya: “Maka ketaatan kepada Allah swt dengan menahan syahwat adalah pemoles bagi hati. Adapun dosa-dosa, ia ibarat asap gelap yang naik menutupi cermin hati.” (Ihya’, [Beirut, Dar al-Ma'rifah: tt], juz III, halaman 12).
Selama Ramadhan, puasa kita berfungsi sebagai misqalah alat pemoles yang membersihkan karat-karat dosa sehingga hati memantulkan cahaya hidayah. Namun, jika usai Ramadhan kita kembali membiarkan asap maksiat mengepul, melalui mata yang tak dijaga, lisan yang tak dikontrol, dan ibadah yang ditinggalkan, maka cermin itu akan kembali tertutup jelaga hitam.