"Orang yang masih berada pada tingkat ahl al-thā‘ah terkadang masih merasakan ibadah sebagai beban. Namun, ketika naik menjadi ahl al-'ibādah, ia tidak lagi merasa terpaksa. Ibadah justru menjadi kenikmatan dan kebutuhan hidupnya," jelasnya.
Ia kemudian menggambarkan bahwa perjalanan ruhani seorang mukmin tidak berhenti pada kenikmatan beribadah. Di atas tingkatan tersebut masih ada derajat yang lebih tinggi, yaitu menjadi ahlullah, yakni hamba-hamba Allah yang seluruh orientasi hidupnya tertuju kepada Allah semata.
"Di atas langit masih ada langit. Begitu pula dalam perjalanan menuju Allah. Orang yang berada pada tingkat ahl al-'ibādah masih berharap memperoleh surga dan terhindar dari neraka. Adapun ahlullah, orientasinya bukan lagi semata-mata pahala atau keselamatan dari siksa, melainkan kerinduan untuk selalu dekat dengan Allah SWT," tuturnya.
Menutup tausiahnya, Menteri Agama berharap semangat hijrah yang terkandung dalam Tahun Baru Islam dapat menjadi inspirasi bagi umat Islam Indonesia untuk terus memperbaiki diri, memperkuat akhlak, meningkatkan kualitas ibadah, serta menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang dirangkaikan dengan kegiatan Pra-Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam memperkuat dakwah, membangun persatuan umat, dan menumbuhkan semangat kolaborasi demi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia.
(Rahman Asmardika)