JAKARTA - Berikut khutbah Jumat dengan judul: "Bulan Safar dan Momentum Menghargai Waktu", sebagaimana dilansir dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia, MUI Digital, Jumat, 31 Juli 2026.
الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَشْهُرَ مَوَاقِيتَ لِلْعِبَادِ، وَأَبْطَلَ شُؤْمَ صَفَرَ وَغَيْرِهِ مِنَ الْأَوْهَامِ وَالْفَسَادِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا يُنِيرُ قُلُوبَ الزُّهَّادِ، وَيَهْدِي إِلَى سَبِيلِ الرَّشَادِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْقِذُنَا مِنْ ظُلُمَاتِ الْعِنَادِ، وَتَفْتَحُ لَنَا أَبْوَابَ السَّدَادِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدنا ونبينا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الْأَمْجَادِ، وَقُدْوَةُ الْعُبَّادِ، وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْأَجْوَادِ، صَلَاةً تَبْقَى مَا بَقِيَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالْأَعْوَادُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَأَنْ نَعْمَلَ فِيْ شَهْر صَفَرَ بِتَجْدِيْدِ الْإِيْمَانِ، لَا بِالتَّشَاؤُمِ وَالعُدْوَانِ، فَإِنَّمَا الشُّؤْمُ فِي الْمَعَاصِي لَا فِي الْأَزْمَانِ، فَأَيَّامُ اللّٰهِ كُلُّهَا سَوَاءٌ، إِنْ أَحْسَنَّا فَلَنَا الْحُسْنَى، وَإِنْ أَسَأْنَا فَالعَاقِبَةُ النَّدَامَةُ وَالخُسْرَانُ.
وَقَالَ تَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ)
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, atas berkat rahmat-Nya, inayah-Nya, karunia-Nya, Allah kumpulkan kita bersama pada hari yang mulia ini, di tempat yang mulia ini untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat.
Mudah-mudahan shalat Jumat kita dan apa pun ibadah yang kita lakukan selama ini diterima oleh Allah. Dan semoga semua ibadah itu dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada-Nya. Amin
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Saat ini kita berada di pertengahan bulan Safar. Masih kita temukan di kalangan masyarakat yang memandang Safar sebagai bulan kesialan, bulan turunnya bala, dan bulan penuh malapetaka.
Akibat keyakinan ini, banyak di antara kita yang terbelenggu rasa takut: misalnya ada yang takut menikah di bulan Safar karena khawatir bercerai, takut bepergian jauh karena khawatir kecelakaan, takut membuka usaha karena khawatir bangkrut.
Pandangan seperti itu dalam agama disebut sebagai tathayyur, yaitu merasa sial karena waktu, tempat, atau tanda-tanda tertentu.