Khutbah Jumat: Memaafkan dan Membebaskan Hati dari Dendam

Rahman Asmardika, Jurnalis
Jum'at 09 Oktober 2026 09:12 WIB
Ilustrasi.
Share :

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Sering kali kata “maaf” begitu mudah diucapkan di bibir. Namun, sejauh mana kata tersebut meresap ke dalam hati dan melahirkan perubahan sikap?

Pemaafan yang sejati bukanlah sekadar formalitas atau basa-basi tahunan ketika bersalaman, bukan pula sekadar kata-kata manis tanpa makna. Pemaafan yang hakiki memiliki beberapa pilar utama.

Pertama, pemaafan adalah proses yang disengaja dan sukarela. Memaafkan bukan tindakan otomatis tanpa kesadaran dan bukan pula karena terpaksa oleh tekanan hukum atau kekuasaan. Memaafkan lahir dari niat yang tulus dalam batin untuk melepaskan dendam.

Kedua, adanya perubahan sikap mental. Memaafkan berarti adanya perubahan sikap, dari yang awalnya membenci menjadi memaklumi, dari yang awalnya marah menjadi bersedia menerima kembali.

Ketiga, pembersihan emosi negatif. Keinginan untuk merencanakan pembalasan dendam benar-benar disingkirkan dari dalam dada.

Allah Swt. memperingatkan kita dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 199:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Artinya: “Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Pemaafan berbeda dengan condoning, yaitu ketika seseorang menganggap suatu perbuatan bukan sebuah kesalahan sehingga tidak membutuhkan maaf.

Berbeda pula dengan excusing. Dalam excusing, seseorang mengakui bahwa perbuatan itu salah, tetapi memahami bahwa pelakunya tidak harus bertanggung jawab sepenuhnya karena ada kondisi tertentu yang dapat dimaklumi.

Ada juga forgetting, yaitu melupakan kesalahan. Ini juga berbeda dengan pemaafan. Memaafkan tidak berarti melupakan.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya