SEMARANG - Tradisi Ngangklang, mungkin masih terdengar asing di telinga kita, bahkkan untuk orang asli Semarang sekalipun. Tradisi ini merupakan peninggalan budaya turun temurun di Dukuh Krajan, Kelurahan Sadeng, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Ngangklang dapat diartikan sebagai ajakan untuk sahur dan bersiap untuk menunaikan shalat Subuh pada bulan suci Ramadhan ini.
Warga Dukuh Krajan Sadeng ini selalu melaksanakan tradisi Ngangklang pada awal puasa. Imam masjid Al-Barokah Sadeng, Haji Zainudin berkeliling kampung bersama puluhan warga lain untuk mendatangi rumah penduduk yang masih tampak belum bersiap melakukan sahur.
Uniknya sambil berkeliling warga yang mengikuti Zainudin menabuh berbagai macam alat tetabuhan. Misalnya, sekelompok ibu-ibu yang membawa alat dapur, seperti panci, penggorengan dan jerigen air untuk digunakan sebagai alat tetabuhan. Tidak mau kalah, anak-anak menggunakan kaleng kerupuk dan biskuit sebagai alat mereka untuk membangunkan warga agar mempersiapkan diri unuk sahur. Kentongan bambu tak luput dari anak-anak sebagai alat tabuh mereka. Tim rebana masjid yang terdiri dari remaja dukuhpun tak mau kalah mengikuti tradisi Ngangklang itu.
"Kita biasanya mulai jam 02.30 WIB, bergerak dari masjid setelah bedug ditabuh. Tradisi ini sudah berumur ratusan tahun saat pertama kali Islam disebarkan disini oleh seorang kyai, kami hanya meneruskan walau ada sedikit perbedaan. Dulunya mungkin tidak seramai ini," kata Zainudin, Minggu (22/7/2012) dini hari.
"Membangunkan orang untuk sahur mungkin juga banyak dilakukan di daerah lain, yang membedakan dengan Ngangklang adalah caranya, disini rombongan Ngangklang selalu didampingi seorang tokoh agama yang juga bertugas mendatangi rumah warga untuk membangunkan mereka. Pada awalnya tradisi ini dilakukan juga untuk mengajak ibadah mengaji sebelum makan sahur, tapi sekarang hanya mengajak sahur saja,kami akan terus melakukan tradisi yang nyaris tidak dikenali lagi di Semarang ini. Tradisi seperti ini memang nyaris tak pernah dilakukan oleh warga dukuh lain selain dukuh kami," imbuh Zainudin.
Ada sekitar lima rumah warga yang didatangi mereka dini hari ini. Robai salah satu warga yang dibangunkan oleg rombongan Ngangklang ini mengaku senang saja dengan apa yang dilakukan warga.
"Saya senang kalau ada Ngangklang, karena tidak mungkin terlambat sahur. Kadang karena terlalu lelah sehabis kerja seharian, kami bisa saja ketinggalan sahur. Dengan adanya Ngangklang ini saya dan istri saya tidak perlu kuatir terlambat sahur," ungkap Robai yang masih tampak terkejut didatangi puluhan warga dengan suara tabuhan yang sangat keras itu.
Mungkin bila anda tidak terbiasa dengan tradisi ini, anda akan sangat terkejut didatangi belasan orang yang memukuli berbagai alat tabuh dan alat dapur itu. Namun bagi warga Dukuh Krajan Sadeng ini, hal tersebut sudah sangat biasa. Mereka justru senang karena ibadah yang akan mereka lakukan tidak sampai terlewat.(hol)
(Stefanus Yugo Hindarto)