Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menyusuri Jejak Rasulullah Mengubah Arah Kiblat Masjid Qiblatain di Madinah

Amril Amarullah , Jurnalis-Selasa, 04 September 2018 |17:35 WIB
Menyusuri Jejak Rasulullah Mengubah Arah Kiblat Masjid Qiblatain di Madinah
Masjid Qiblatain, salah satu masjid tertua di Madinah, yang terletak di pusat kota. (Foto: Amril Amarullah/Okezone)
A
A
A

MADINAH – Kota Madinah bukan hanya menyimpan banyak sejarah dan nilai filosofi yang terkandung dalam setiap masjid yang berdiri. Selain Masjid Nabawi, ada banyak masjid lain yang di zaman Rasulullah SAW, menjadi saksi sejarah perkembangan penyebaran Islam di kota itu.

Salah satunya adalah Qiblatain. Masjid ini memiliki sejarah teristimewa lantaran punya dua kiblat dalam satu masjid. Ketika itu, masjid yang sebelumnya dinamakan Bani Salamah tersebut memiliki letak posisi kiblat ke arah Masjid Al-Aqsha di Yerusalem, Palestina.

Menurut cerita salah seorang petugas masjid, konon sejarahnya Nabi Muhammad SAW ketika itu mendapat ejekan dari kaum Nasrani dan Yahudi bahwa ibadah kaum muslim terlalu meniru ajaran nenek moyang Yahudi yang mengarahkan tempat ibadahnya ke Baitul Maqdis.

Mendapat banyak gunjingan dari mereka, Rasulullah SAW pun meminta kepada Allah agar arah kiblat dapat diganti menghadap ke Masjidil Haram, Kakbah tempat kaum Ibrahim.

Suasana di dalam Masjid Qiblatain di Kota Madinah, Arab Saudi. (Foto: Amril Amarullah/Okezone)

Menjawab kegundahan Rasulullah atas cemoohan kaum Yahudi tersebut, Allah menurunkan firman-Nya dalam Surat Al-Baqarah ayat 144 yang artinya:

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu (Muhammad) menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya, orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram adalah benar dari Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”

Dikutip Okezone dari berbagai sumber, perintah Allah untuk memalingkan arah salat orang-orang mukmin tersebut turun ketika Rasulullah dan para sahabatnya tengah mengerjakan dua rakaat salat Dzuhur di Masjid Bani Salamah, atau yang kini dinamakan Masjid Qiblatain.

Begitu Rasulullah menerima perintah Allah tersebut, beliau dan para sahabatnya langsung berputar arah 180 derajat. Perpindahan arah kiblat tersebut tidak membatalkan salat atau mengulang salat dua rakaat sebelumnya.

Perintah Allah untuk memalingkan arah salat orang-orang mukmin tersebut turun ketika Rasulullah dan para sahabatnya itu tengah mengerjakan dua rakaat salat Dzuhur di Masjid Bani Salamah.

Peristiwa itulah yang kemudian menjadi awal mula Masjid Bani Salamah dikenal sebagai Masjid Qiblatain atau masjid yang memiliki dua kiblat.

Ketika Okezone menyambangi Masjid Qiblatain, tampak kesederhanaan, namun tetap memiliki kekhasan sebagai salah satu masjid tua di Madinah. Sayangnya, meski sudah banyak umat muslim yang tahu sejarah dan keberadaan masjid tersebut, para jamaah haji yang melakukan ziarah atau salat di masjid tersebut masih sepi.

Hal itu tentu berdampak pada sepinya para pedagang yang menjajakan daganganya di sekitaran Masjid Qiblatain. Mereka terlihat hanya santai duduk-duduk saja, tidak ada aktivitas jual beli, padahal ini adalah musim haji.

Zulmunir, salah seorang pedagang asal Madura mengaku, sudah satu minggu ini berdagang di pelataran masjid, belum banyak rombongan jamaah haji Indonesia yang datang. "Kalaupun ada, palingan perorangan saja," ujar Zulmunir resah.

Suasana di dalam Masjid Qiblatain di Kota Madinah, Arab Saudi. (Foto: Amril Amarullah/Okezone)

Masjid dengan luas mencapai 3.920 meter persegi ini, awalnya hanya memiliki luas 425 meter persegi. Namun, oleh Pemerintah Arab kemudian masjid itu diperluas.

Masjid Qiblatain terletak di jantung Kota Madinah. Terdiri atas dua lantai, luas ruang utama 1.990 meter persegi dengan daya tampung 2.000 jamaah, serta luas balkon sekira 400 meter persegi. Di bagian barat daya terdapat kamar untuk imam, muadzdzin dan penjaga masjid.

Tempat wudu yang cukup luas terdapat di lantai bawah, mampu menampung 120 orang. Uniknya, di dalam halaman masjid, terdapat taman yang ditanami pohon besar dan kecil, menambah suasana asri dan kesejukan di tengah panas menyenangat hingga 43 derajat Celsius.

Halaman Masjid Qiblatain tampak asri dengan adanya pepohonan (Foto: Amril Amarullah/Okezone)

Bangunan dengan gaya arsitektur kuno namun terlihat modern ini, menggambarkan sebuah masjid penuh sejarah dan kenangan masa lalu. Bercat putih, dengan langit dinding merah bata terbuat dari ukiran kayu.

Di bagian dalam tergantung dengan megahnya lampu gantung berbentuk bulat berjumlah tiga buah saling berjajaran. Sementara untuk menerangi halaman luar di sekeliling masjid dipakai lampu sokle yang ditaruh di atas tiang-tiang.

Setiap tiang-tiang masjid terukir ornamen yang diambil dari khazanah seni Islam yang begitu indah.

Bentuk mihrabnya juga menawan, dengan tulisan ayat-ayat Alquran, buah tangan para ahli ukir dan kaligrafi Arab Saudi. Mimbar khutbah dengan tinggi sekira 1,5 meter begitu terlihat jelas ketika khutbah berlangsung. Pada salah satu bagian dindingnya terdapat prasasti yang menceritakan ihwal dirubahnya kiblat umat Islam.

Ditulis dalam beberapa bahasa termasuk arab melayu, di dinding tersebut terdapat anjuran bagi jamaah haji yang berziarah untuk melakukan salat sunat dua rakaat di masjid ini.

Menggunakan karpet merah, ketika memasuki masjid itu terasa di Masjid Nabawi, terasa lembut dan tebal. Kombinasi garis saf berwarna krem, hitam, hijau, maka setiap kali salat di masjid ini ingin berlama-lama berdiam diri di masjid itu.

Berkali-Kali Direnovasi

Masjid Qiblatain sudah mengalami berkali-kali perombakan, dan renovasi besar-besaran pada masa pemerintah Raja Fadh, pada 1987.

Masjid Qiblatain. (Foto: Amril Amarullah/Okezone)

Meski sudah banyak perombakan, ciri khas Masjid Qiblatain yang memiliki dua mihrab di dalamnya, yakni yang menghadap Baitul Maqdis dan Masjidil Haram, tidak hilang sama sekali. Terdapat penanda bekas kiblat arah Baitul Maqdis, yakni terdapat ornamen bertuliskan "Lailahaillallah Muhammadurrasulullah".

Kubah utama menandakan arah kiblat utama yang menghadap Masjidil Haram, sedangkan kubah kedua menghadap menunjukkan arah kiblat palsu yang dahulu menjadi arah para umat Muslim ketika mengerjakan salat.

Di antara kubah tersebut terdapat garis silang yang menandakan proses perpindahan arah kiblat. Sementara di bawahnya terdapat sebuah miniatur mihrab tua yang menyerupai ruang kubah batu di Yerusalem.

Masjid ini menjadi saksi ketika Rasulullah SAW mengganti kiblat salat ke arah Ka’bah di Makkah dari yang semula menghadap Masjid Al-Aqsha di Palestina. Banyak jamaah asing yang datang memanfaatkan untuk mengabadikan arah kiblat lama sebagai kenang-kenangan.

(Erha Aprili Ramadhoni)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement