Mencari takjil pada saat ngabubirit di bulan puasa Ramadan merupakan hal yang menyenangkan, sekaligus menjadi sebuah sensasi tersendiri. Di pasar-pasar tradisional hingga jajanan di kaki lima berbagai jenis takjil tersedia siap memuaskan pandangan mata dan perut.
Di Kota Manado, saat bulan puasa berbagai pedagang menjajakan aneka makanan tradisional mulai dari kue, apem, risol, kue lapis, dan berbagai jajanan lainnya sebagai takjil. Minuman seperti es buah, cendol, pisang ijo, kolak, bahkan sayur dan lauk serta jajanan unik yang hanya ada pada saat bulan puasa Ramadan juga tersedia.
Tidak semua tempat menyediakan jajanan unik. Ada makanan yang hanya tersedia di pasar Ramadan Kampung Arab, yakni roti kukus dan popaco.
Roti kukus sendiri terbuat dari tepung terigu yang dicampur dengan telur, garam dan air, sementara untuk isinya berupa tumisan sohun, bawang merah, bawang putih, cabe dan ikan cakalang pampis atau ikan cakalang yang sudah disuwir-suwir kemudian dicampur dengan laksa dan air santan kelapa.

Soal rasa, jangan ditanya, meskipun terlihat sederhana roti kukus mampu menyihir para penikmatnya dengan rasa yang unik. Rasanya gurih dan mungkin yang menjadi alasan roti kukus cakalang disukai disaat menjelang buka puasa karena selain gurih juga mengenyangkan.
Roti kukus hanya ada di Kampung Arab, Kelurahan Istiqlal, Kecamatan Wenang, Kota Manado. Asal muasal kuliner ini tidak ada yang tahu pasti, sudah ada sejak zaman dahulu kala, dan merupakan sajian khusus berbuka puasa ditiap-tiap keluarga.

"Semacam kue kebesaran di bulan puasa, karena kue ini hanya ada di bulan puasa, kalau sudah selesai bulan puasa, tidak ada lagi yang membuatnya," ujar Popy Bachmid, warga kampung arab.
Roti kukus ini dihargai Rp2000 sampai Rp3000 per-satuannya. Sedangkan untuk satu buah nampan berisi 30 biji roti kukus cakalang dijual dengan harga Rp75 ribu saja. Untuk mendapatkannya, anda harus datang lebih awal jika tidak mau kehabisan.

Selain roti kukus, terdapat kue popaco. Penganan yang terbuat dari gula merah dan santan ini juga hanya ada di Kampung Arab dan pada bulan Ramadan. Kue tradisional ini masih menjadi primadona dan dijaga kelestariannya khususnya di bulan puasa.
"Kue ini sudah ada sejak tahun 1970an, dan hanya ada di bulan Ramadan, kue ini selalu laris terjual dan banyak yang mencarinya sampai dari luar-luar kampung," tutur Lily Naha, pembuat Kue Popaco.
Kue popaco dibungkus menggunakan daun pisang yang dibuat model kerucut. Kue ini menggunakan bahan dasar tepung beras, sehingga tekstur yang dihasilkan sangat lembut dan memiliki rasa manis. Lebih nikmat dengan adanya sensasi gurih dengan campuran saus santan kentalnya, pas untuk sajian buka puasa bersama keluarga.
(Helmi Ade Saputra)