Namun, yang menjadi catatan tersendiri dalam berdakwah waktu yaitu tantangan dan kendala bagi Dai Ambassador Prancis saat berdakwah berhadapan langsung dengan jamaah yang keilmuannya sangat memadai. Ada seorang teknokrat yang keilmuannya luar biasa, kami menyapanya dengan pak Andang.
Demikian halnya ibu Ida ini pejabat tinggi di Paris yang memiliki pengetahuan luas dan jaringan islam yang sangat luar biasa. Bahkan ibu Ida ini termasuk pengurus salah satu philantropy yang ada di Paris.
Dai ternyata tidak harus menyampaikan materi ceramahnya, namun putra bekasi ini yang diamanahkan menjadi dai ambassador corp dompet dhuafa Perancis banyak juga belajar tentang perkembangan Islam di Perancis.
Menurut ibu Ida, pengerak NGO philantropy, perkembangan islam cukup pesat di Prancis, tercatat kurang lebih pemeluk Islam terbanyak ke-2 di negara ini. Kurang lebih ada 6 juta muslim dan memiliki 2.000 mesjid. Perkembangan lainnya dapat dilihat dari berbagai sisi perkembangan umat islam, jumlah masjid, angka kemiskinan, dan terlaksananya nilai Islam baik dalam hal pinjam meminjam tanpa bunga, setelah kami telusuri inilah akad yang namanya qard alhasan, bahkan ada kebiasaan masyarakat dalam perkebunan yaitu sistem paron atau paroan.
Setelah kami telusuri ini adalah kajian ekonomi islam tentang bagi hasil atau mudarabah, ada kajian muzaraah, mukhabarah dan musaqah. Menurut ibu Ida sekarang ini ada trend di masyarakat paris mereka mengkonsumsi bahkan mencari obat herbal habbatussauda'.
Demikian halnya ketika dalam ajaran Islam ada pelarangan mengkonsumsi daging babi ternyata banyak penelitian ahli Prancis yang menjelaskan bahaya atau mudharatnya jika makan daging babi, sehingga warga Prancis pun yang non muslim mencari makanan yang halal karena menjadi sehat. Demikian halnya perkembangan bank syariah menurut bu Ida, sangat pesat.