Kisah Anak-Anak Berkebutuhan Khusus Pembuat Tasbih

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 21 Mei 2019 21:00 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 21 614 2058584 kisah-anak-anak-berkebutuhan-khusus-pembuat-tasbih-102doBEHxf.jpg Kisah ABK pembuat tasbih (Foto : Sukardi/Okezone)

Sekumpulan remaja mengenakan kaos kuning dengan corak biru di lengan tengah sibuk di meja panjang. Tangannya aktif meronce mutiara, batu, dan kristal menjadi sebuah tasbih nan indah. Sesekali mereka "kambuh" dan tak bisa diatur.

Instruktur selalu ada di samping mereka. Memberi tahu sebaiknya bagaimana atau sebatas menenangkan tubuh yang tak dapat terkendali. Instruktur lainnya sibuk mengawasi remaja lain di sudut meja yang terlihat sangat konsentrasi meronce.

Suasana ini yang dilihat Okezone saat menyambangi Sekolah Khusus Spectrum di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan. Ruangan tempat anak berkebutuhan khusus (ABK) ini beraktivitas cukup luas. Tak hanya meja tempat mereka berkarya, tetapi ada setumpuk kasur busa dan televisi yang sesekali menayangkan program acara yang ternyata disukai salah seorang anak.

Kedatangan Okezone ke sini tak lain adalah untuk melihat bagaimana ABK mampu berkarya. Ya, tasbih yang mereka buat adalah karya nyata dan sebagai bukti jika mereka tak bisa dipandang sebelah mata bahkan menganggap mereka tak berguna.

anak berkebutuhan khusus

Tak ada interaksi yang bisa dilakukan Okezone dengan ABK ini. Paling, sebatas meminta dia untuk menengok ke arah kamera untuk dipotret atau meminta mereka untuk lebih tenang. Meski begitu, tangan mereka tetap meronce dan ini membuktikan kalau ABK tetap bisa mengerjakan suatu kegiatan dan tak hanya itu, mereka berdaya untuk dirinya sendiri.

Dijelaskan salah seorang pendiri Sekolah Khusus Spectrum Sandra Talogo, aktivitas membuat tasbih ini sudah ada sejak 2017 akhir. Inisiasi ini muncul saat merasa harus ada hal lain yang dikerjakan murid di sekolahnya. Meronce tasbih menjadi pilihan karena dianggap cukup mudah untuk diajarkan, meski pada kenyataannya tidak mudah juga memberikan keahlian ini ke ABK. Butuh kesabaran luar biasa.

ABK membuat tasbih

Sandra melanjutkan, bukan sebatas untuk memberi keterampilan pada ABK, tapi membuat tasbih juga ternyata membawa dampak luar biasa untuk lingkungan sekitar sekolah.

"Jadi, kita memang produksi tasbih ini ke masyarakat dan karena cukup banyak peminatnya, alhasil kita mencari pendamping untuk membantu mencukupi pesanan. Dari sana kita sadar kalau ternyata ABK ini mampu memberdayakan masyarakat sekitar dan hal ini salah satu capaian yang luar biasa," terangnya pada Okezone, Selasa (21/5/2019).

Ya, dari apa yang dilakukan ABK ini di sekolah, ternyata mereka secara tidak langsung memberdayakan masyarakat sekitar sekolah. Instruktur Sopiah ternyata membawa ilmu meronce itu ke lingkungan sekitar rumahnya dan kemudian dari apa yang dikerjakan, masyarakat bisa mendapatkan upah.

Bahkan, ABK yang membuat tasbih pun mendapatkan upah, meski tak begitu besar dan dirasa mereka tak begitu mengerti makna uang tersebut. Namun, Sandra menjelaskan, itu adalah upah karena karya mereka diterima di masyarakat.

Saat mengenal anak-anak ini lebih jauh, Okezone sadar kalau ABK memang bukan anak biasa. Ketika mereka ditekan untuk mengerjakan sesuatu, maka mereka meresponnya dengan berbagai cara. Jadi, sebisa mungkin anak-anak ini merasa nyaman baik itu saat meronce mau pun mengerjakan bagian lainnya.

Dalam pengerjaan membuat tasbih, ada beberapa tahapan yang mesti dilakukan. Tahap pertama adalah memasukkan mutiara, batu, atau kristal ke dalam benang. Kegiatan ini mesti diajari dengan tepat dan masalah yang muncul ialah saat benang pecah (terurai). Kalau sudah begini, kata Sopiah, anak-anak bakal kesal dan kesulitan memasukin material tasbihnya.

"Untuk masalah yang ini, kita biasa mengoleskan lem di ujung benang supaya tidak pecah dan kalau sudah begini, anak-anak juga mudah memasukan material ke dalam benang," kata Sopiah.

anak berkebutuhan khusus membuat tasbih

Selanjutnya adalah tahapan memasukkan tasbih yang sudah jadi ke dalam bungkus plastik dan mengikatnya. Bagi Anda yang membaca artikel pasti menganggap hal ini sepele dan mudah dilakukan, tapi tidak untuk ABK. Butuh keterampilan untuk bisa mengelem bungkusan karena ini memerlukan beberapa upaya lebih. Kalau si anak bisa, berarti kemampuan dia luar biasa.

"Tapi dari 5 ABK yang aktif membuat tasbih, belum ada satu pun yang mampu mengikat. Jadi, untuk urusan itu, Sopiah yang mengerjakannya. Sopiah juga yang memastikan kalau hitungan batu, mutiara, atau kristal tepat di pembatasnya," tambah Sandra.

Dari pengamatan Okezone di sekolah langsung, dapat dijelaskan kalau instruktur mesti ekstra sabar. Mereka juga diharuskan mengenali si anak dengan sangat baik, karena ini adalah cara mereka berkomunikasi. Misalnya suara si anak atau tingkah lakunya.

ABK semangat membuat tasbih

Jadi, dijelaskan Sopiah, ketika si anak mulai mengeluarkan suara dengan intonasi tertentu, itu tandanya dia bisa ingin istirahat atau mau makan atau memang sudah bosan. Hal ini juga bisa dilihat ketika si anak menunjukan gerakan yang absurd dan tak terkendali. Kalau sudah begini, ya, instruktur tentunya tak bisa menahan atau bahkan memaksa si anak untuk melanjutkan kegiatannya.

"Intinya kita nggak boleh memaksa si anak buat mengikuti kehendak kita. Kalau itu dilakukan, bisa-bisa di anak bad mood dan malah nggak mau beraktivitas sama sekali," terang Sopiah.

Sementara itu, Sandra menjelaskan kalau adanya tasbih buatan ABK ini punya makna besar, yaitu sinergi. Jadi, dia berharap besar kalau tasbih ini bisa menjadi jembatan buat ABK tidak hanya supaya masyarakat tahu kalau mereka bukan makhluk useless, tetapi ABK pun bisa berkarya. Bahkan, tidak hanya itu, ABK juga memberdayakan orang lain dengan mengajak masyarakat ikut membuat tasbih juga.

"Saya tidak menyangka kalau tasbih ini punya dampak luar biasa. Kami hanya ingin masyarakat tidak kasihan ke ABK atau menganggap mereka tak bisa berbuat apa-apa, tapi kami ingin mengajak masyarakat melihat fakta kalau ABK bisa memberdayakan dirinya sendiri pun orang lain. Semoga semakin banyak hal positif yang bisa dilakukan ABK untuk orang lain secara langsung," tambah Sandra.

ABK plontos pembuat tasbih

Tasbih buatan ABK ini pertama kali viral di Twitter dan akun @dijeonysus yang mempopulerkannya. Dalam keterangannya di sana, netizen ini menuliskan;

"Saya ingin menjual tasbih yang dijual anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam rangka mengembangkan kemandirian ABK dan membuktikan kalau ABK bisa sukses tanpa perlu dikasihani."

Postingan ini sampai sekarang sudah mendapat retweet sebanyak 7.754 dan disukai 2.425 netizen di Twitter. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sandra di mana pemesanan tasbih di dua minggu ini sudah ada 2.100 item dan dia sangat bersyukur atas respon masyarakat yang mendukung ABK untuk mandiri dan berdaya bagi orang lain.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini