Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Anak-Anak Berkebutuhan Khusus Pembuat Tasbih

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Selasa, 21 Mei 2019 |21:00 WIB
Kisah Anak-Anak Berkebutuhan Khusus Pembuat Tasbih
Kisah ABK pembuat tasbih (Foto : Sukardi/Okezone)
A
A
A

Sekumpulan remaja mengenakan kaos kuning dengan corak biru di lengan tengah sibuk di meja panjang. Tangannya aktif meronce mutiara, batu, dan kristal menjadi sebuah tasbih nan indah. Sesekali mereka "kambuh" dan tak bisa diatur.

Instruktur selalu ada di samping mereka. Memberi tahu sebaiknya bagaimana atau sebatas menenangkan tubuh yang tak dapat terkendali. Instruktur lainnya sibuk mengawasi remaja lain di sudut meja yang terlihat sangat konsentrasi meronce.

Suasana ini yang dilihat Okezone saat menyambangi Sekolah Khusus Spectrum di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan. Ruangan tempat anak berkebutuhan khusus (ABK) ini beraktivitas cukup luas. Tak hanya meja tempat mereka berkarya, tetapi ada setumpuk kasur busa dan televisi yang sesekali menayangkan program acara yang ternyata disukai salah seorang anak.

Kedatangan Okezone ke sini tak lain adalah untuk melihat bagaimana ABK mampu berkarya. Ya, tasbih yang mereka buat adalah karya nyata dan sebagai bukti jika mereka tak bisa dipandang sebelah mata bahkan menganggap mereka tak berguna.

anak berkebutuhan khusus

Tak ada interaksi yang bisa dilakukan Okezone dengan ABK ini. Paling, sebatas meminta dia untuk menengok ke arah kamera untuk dipotret atau meminta mereka untuk lebih tenang. Meski begitu, tangan mereka tetap meronce dan ini membuktikan kalau ABK tetap bisa mengerjakan suatu kegiatan dan tak hanya itu, mereka berdaya untuk dirinya sendiri.

Dijelaskan salah seorang pendiri Sekolah Khusus Spectrum Sandra Talogo, aktivitas membuat tasbih ini sudah ada sejak 2017 akhir. Inisiasi ini muncul saat merasa harus ada hal lain yang dikerjakan murid di sekolahnya. Meronce tasbih menjadi pilihan karena dianggap cukup mudah untuk diajarkan, meski pada kenyataannya tidak mudah juga memberikan keahlian ini ke ABK. Butuh kesabaran luar biasa.

ABK membuat tasbih

Sandra melanjutkan, bukan sebatas untuk memberi keterampilan pada ABK, tapi membuat tasbih juga ternyata membawa dampak luar biasa untuk lingkungan sekitar sekolah.

"Jadi, kita memang produksi tasbih ini ke masyarakat dan karena cukup banyak peminatnya, alhasil kita mencari pendamping untuk membantu mencukupi pesanan. Dari sana kita sadar kalau ternyata ABK ini mampu memberdayakan masyarakat sekitar dan hal ini salah satu capaian yang luar biasa," terangnya pada Okezone, Selasa (21/5/2019).

Ya, dari apa yang dilakukan ABK ini di sekolah, ternyata mereka secara tidak langsung memberdayakan masyarakat sekitar sekolah. Instruktur Sopiah ternyata membawa ilmu meronce itu ke lingkungan sekitar rumahnya dan kemudian dari apa yang dikerjakan, masyarakat bisa mendapatkan upah.

Bahkan, ABK yang membuat tasbih pun mendapatkan upah, meski tak begitu besar dan dirasa mereka tak begitu mengerti makna uang tersebut. Namun, Sandra menjelaskan, itu adalah upah karena karya mereka diterima di masyarakat.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement