Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Catatan Sang Dai di Macau, Seminggu Keliling Belum Ketemu Penduduk Muslim

Iqbal Dwi Purnama , Jurnalis-Selasa, 21 Mei 2019 |19:20 WIB
Catatan Sang Dai di Macau, Seminggu Keliling Belum Ketemu Penduduk Muslim
Ilustrasi suka duka dai saat berdakwah
A
A
A

DAUN jatuh pun tertulis di Lauhil Mahfuzh. Kita tidak tahu apa rencana Allah? Awalnya saya dapat penempatan di Yunani, negeri para filsuf, tempat peradaban akal. Demikian Sukron Makmun, Dai Ambassador Dompet Dhuafa untuk Hongkong & Macau, mengawali kisahnya dakwah nun jauh di sana.

Karena sesuatu hal, counterpart Dompet Dhuafa (DD) di sana, tidak lagi meneruskan kemitraan dakwah. Saya dipindahtugaskan ke negeri gingseng, Korea Selatan. Ketika visa dai lain sudah turun, ada dua dai yang visanya tidak turun, termasuk saya. Pihak DD akhirnya mengalihtugaskan saya. Qaddarallahu, saya bersama empat dai lainnya dapat terbang ke Hongkong (HK) tanggal 8 Mei. Kita sampai Hongkong pada tanggal 9 Mei dini hari.

Saya sudah mulai adaptasi dengan udara dan lingkungan di HK. Ditakdirkan bertemu kawan-kawan yang sedang bertugas di kantor perwakilan RI HK (KJRI). Kawan lama yang jumpa di Kairo dulu, dan kawan sesama anggota Perhati (Perhimpunan Alumni Tiongkok).

Dakwah adalah tugas, sekaligus amanah. Di manapun, kapan pun! No postpone. No excuses. Ketika sudah mulai nyaman, saya diminta ke Macau. Diaspora Indonesia di Macau sangat membutuhkan secepatnya. Jum'at habis Maghrib (10/5) saya packing. Malam itu juga relawan DD dari Macau akan menjemput. Malam sebelumnya DD-HK telah mengirim dai ke sana, tapi ada kendala di imigrasi. Ada aturan baru, harus membawa uang cash 5.000 dolar HK.

Dalam beberapa menit, saya sudah siap. Kita berangkat dari HK pukul 23:50 menggunakan transportasi darat. Naik bus no bus A11. Dari HK ke perbatasan Hongkong-Zuhai-Macau Bridge (HZMB) dengan waktu tempuh sekitar 1 jam ke perbatasan. Lalu dari perbatasan ke Macau kita tempuh selama kurang lebih 35 menit. Saya senang bisa melihat jembatan terpanjang di dunia itu. Saya video-kan. Jembatan yang memadukan antara teknologi mutakhir dan seni arsitektur modern yang luar biasa. Kita melewati terowongan bawah laut.

Jam segitu biasanya saya tidur. Tapi saya tidak mau kehilangan momen langka ini. Once upon time. Alhamdulillah, saya dapat melewati imigrasi dengan baik. Tanpa hambatan. Bahkan tidak ditanya apapun. Dari Macau ke tempat tujuan hanya sekitar 15-20 menit menggunakan taksi.

Kita sampai di Macau pukul 02:30 dini hari (11/5). Tiba di flat, sekretariat Majlis Ta'lim Indonesia Macau (MATIM) pukul 02.50. Lanjut sahur, jamaah Shubuh dan kultum, seingat saya. Itulah sebabnya dai harus siap, tidak hanya mental. Tapi fisik bahkan finansial untuk dakwah. Bil amwal wal anfus (berjuang dengan harta & jiwa), meminjam istilah kitab suci.

Mozaik Ramadan di Negeri Judi

Selama seminggu, saya belum menemukan penduduk Macau yang beragama Islam. Di kota tempat saya tinggal, baru saya temukan satu masjid. Masjidnya pun kecil, dengan kapasitas sangat minim. Kalau di Indonesia sama dengan musala-musala yang ada di pom bensin. Meskipun kecil, masjid ini menjadi pusat kegiatan migran Muslim dari berbagai negara. Termasuk untuk Jumatan. Masjid ini dikelola oleh para migran Muslim Pakistan. Masjid ini mendapat sokongan dana dari para Muhsinin Kuwait.

Tiap hari Minggu, masyarakat Indonesia, dari berbagai kalangan, profesional, semi profesional dan pekerja migran Indonesia (PMI) juga berduyun-duyun ke masjid ini. Ada yang sekadar ingin bertemu sesama WNI, ada yang i'tikaf, atau sekadar ingin cari udara atau suasana segar, karena letaknya di pinggir pantai. Para wanita PMI (Gabungan Muslimah Indonesia Macau) biasanya mengadakan majlis al-Qur'an --ada tahsin dan sekadar belajar mengaji--, pengajian dan buka bersama.

Acara dimulai dari pukul 10:00 sampai jam 14:00. Setelah itu dilanjut dengan tausiyah dari Dai Ambassador (DA). Setelah itu dibuka sesi tanya jawab dan konseling sampai azan Maghrib dikumandangkan. Dilanjut dengan buka bersama. Kegiatan ini diikuti oleh anggota berbagai majlis taklim yang ada. MATIM, Halimah, Halaqah, Irsyad dll.

Minggu lalu ada dai dari Myanmar, dan seorang hafiz dari Indonesia yang diundang oleh ta'mir masjid Pakistan khusus untuk menjadi imam salat Tarawih. Syeikh Abdul Hamid dan Ustadz Ersa. Keduanya dirangkul oleh DA. Diajak untuk bersama-sama mengisi kajian keislamandi depan gabungan Muslimah Indonesia Macau tsb. Acara meriah, dan diikuti dengan penuh antusias oleh para Muslimah.

Untuk kegiatan sehari-hari, DA-DD mengisi seluruh rangkaian Ramadan. Mulai jamaah Shubuh zikir bersama, kultum shubuh, buka bersama, jamaah Isya', tarawih keliling, dan juga kultum setelah tarawih. Yang unik di sini, Isya' dan tarawih dimulai pada pukul 23:00, dan biasa selesai pukul 01:00 atau 30 menit lebih lambat. Tergantung di majlis ta'lim mana, dan tergantung berapa pertanyaan yang diajukan oleh jamaah. Tarawih keliling dari majlis ta'lim satu ke majlis ta'lim yang lain.

DA harus mengkondisikan fisik dengan baik. Mengatur waktu istirahat. Termasuk mengontrol waktu, pola makan dan jenis makanan untuk dikonsumsi. Sebab, jamaah selalu menyediakan aneka makanan/kuliner yang menggoda selera. Dai dituntut harus dapat menahan diri dari makan dan minum, tidak hanya di siang hari, tapi juga di malam hari selepas tarawih. Termasuk menjaga pandangan, karena jamaahnya 99 koma nol persen adalah kaum hawa.

(Muhammad Saifullah )

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement