Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ini Studi NU Soal Gerakan Islam di Kampus-Kampus Negeri

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Kamis, 27 Juni 2019 |20:48 WIB
Ini Studi NU Soal Gerakan Islam di Kampus-Kampus Negeri
Kampus jadi tempat mahasiswa belajar, di sana gerakan Islam juga sering masuk (Foto: Anadolu)
A
A
A

Berikut temuannya

Penelitian yang dilakukan sejak Desember 2018 hingga Januari 2019 itu menganalisis aktivitas gerakan tersebut di delapan kampus yang tersebar di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, salah satunya Universitas Gadjah Mada (UGM).

Terdapat sejumlah poin yang jadi pokok temuan LPPM UNUSIA dalam penelitian kualitatif yang mereka lakukan. Pertama yaitu dominasi gerakan tarbiyah di kampus-kampus objek penelitian.

Gerakan tarbiyah yang berkiblat pada Ikhwanul Muslimin di Mesir diyakini bermanisfestasi - salah satunya - dalam bentuk organisasi KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Peneliti mengidentifikasi gerakan tersebut mengidealkan penerapan syariat Islam dan berdirinya negara Islam.

"KAMMI itu secara otomatis tarbiyah, tapi tarbiyah itu tidak selalu KAMMI. Jadi cover massa ideologisnya itu lebih besar tarbiyah," tutur Naeni Amanulloh, peneliti LPPM UNUSIA.

Kedua, gerakan Hizbut Tahrir yang diklaim masih menggeliat dalam diam setelah dibubarkan pemerintah tahun 2018 lalu. Gerakan ini disebut-sebut berada dalam DNA organisasi kemahasiswaan bernama Gema Pembebasan (GP).

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sendiri dinyatakan sebagai ormas terlarang karena terbukti berkeinginan mengubah negara Pancasila menjadi khilafah.

Ketiga, adanya gerakan aliran salafi di sekitar kampus. Meski tidak sepolitis tarbiyah dan hizbut tahrir yang kadernya aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, aliran ini aktif menggelar kegiatan-kegiatan di masjid sekitar kampus, dengan tujuan untuk memurnikan atau purifikasi ajaran Islam.

Keempat adalah lemahnya gerakan-gerakan mahasiswa yang dianggap membawa gerakan Islam inklusif, seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), dan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) di lingkungan kampus.

"Mereka seperti tidak tertarik untuk mengisi ruang-ruang masjid dan menganggap bahwa kayaknya (hal itu) nggak in (populer)," ungkap Okky Tirto, Koordinator Media LPPM UNUSIA.

 

"Mereka lebih fokus, misalnya, ke BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), ke kegiatan-kegiatan lain, sementara justru sirkulasi gagasan ini adanya di masjid."

(Dyah Ratna Meta Novia)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement