Kisah Hamba yang Saleh, Kakek Jelmaan Iblis dan Pohon Besar

Senin 22 Juli 2019 04:47 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 21 614 2081729 kisah-hamba-yang-saleh-kakek-jelmaan-iblis-dan-pohon-besar-LfUZZyfW9q.jpg Ilustrasi hamba Allah mau menebang pohon besar (Foto: Osho News)

Terdapat sebuah kisah kehidupan seorang hamba yang saleh, kaum  Bani Israel. Suatu ketika seorang hamba yang saleh itu mendapat cobaan.

Pohon besar

Suatu ketika, tempatnya bertapa didatangi oleh sekelompok orang yang sebelumnya sudah tahu riwayat hidup hamba yang saleh ini. Mereka hendak melaporkan bahwa ada sebuah daerah yang penduduknya bukan menyembah Allah, melainkan pohon besar yang dijadikan pujaan.

Seperti dilansir dari situs resmi Pondok Pesantren Lirboyo, mendengar laporan warga, sang pengabdi Allah ini murka luar biasa. Darahnya memuncak diubun-ubun. Segera ia ambil kapak miliknya, ia selempangkan ke bahunya. Ia hendak pergi menebang pohon besar tersebut.

Sesampainya di dekat lokasi pemujaan, ia berjumpa dengan seorang kakek. Sesungguhnya si kakek tua itu adalah Iblis yang sedang mewujudkan dirinya seperti manusia. Si hamba yang saleh tak tahu hal itu.

“Hendak kemana kau akan pergi? Semoga Allah merahmatimu,” sapa kakek tua sembari berdoa.

“Aku akan menebang pohon ini,” jawab si hamba yang saleh tersebut.

“Buat apa kau melakukan kekonyolan ini. Bahkan engkau malah meninggalkan aktivitas ibadah dan rutinitasmu?,” si kakek menebar perangkapnya.

“Ini juga bentuk dari ibadahku,” ujar hamba tersebut.

“Tak akan kubiarkan kau melakukannya,” kata kakek tua menantang. Si hamba yang saleh lalu marah. Mereka melakukan pergulatan sengit.

Setelah beberapa saat adu kekuatan, si hamba akhirnya mampu menghempaskan tubuh si kakek tua ke tanah. Dengan kekuatannya ia menduduki dadanya.

Tahu posisinya sedang tidak beruntung kakek ini mencari jalan negoisasi.

“Sebentar dulu, lepaskan aku, akan kuberi kau petuah-petuah,” kata kakek tua merajuk. Tanpa ada rasa curiga, si hamba bangkit.

“Hei engkau, sungguh Allah tidaklah menitahkanmu untuk melakukan pekerjaan ini, Ia tidak pula mewajibkanmu. Satu sisi kau tidak juga ikut-ikuan menyembah pohon tersebut. Allah punya banyak Nabi dipenjuru bumi ini, jika Ia mau laksana akan dikirim seorang nabi ke daerah ini lalu Ia perintahkan untuk menebang pohon tersebut,” ujar kakek itu.

Namun ternyata wejangan iblis itu sama sekali tidak mampu merobohkan tujuan mulia dari si hamba. Ia menerjang si kakek tua lagi.

Sama seperti pertarungan pertama, dengan mudah ia menumbangkan si kakek, menghempaskannya lalu duduk di atas dadanya. Si kakek tua tak berdaya.

“Apa kau mau menerima sebuah hal yang mungkin saja bisa menjadi penengah masalah kita sekarang ini? Suatu hal yang lebih baik bagimu lagi bermanfaat," terang si kakek menawarkan negoisasi.

“Apa itu?," si hamba mulai terpancing penasarannya.

“Kau adalah seorang yang melarat tak punya apa-apa, kau gantungkan hidupmu daripada uluran tangan manusia kepadamu. Mungkin saja kau ingin posisimu lebih utama dibanding rekanmu. Tetanggamu. Engkau mungkin juga ingin perutmu terisi sehingga tak lagi kau butuhkan uluran tangan manusia?.”

Entah apa yang menyebabkan si hamba yang saleh itu mengiyakan apa yang telah ditebak oleh si kakek.

“Jika benar maka urungkanlah pekerjaanmu ini, sebagai imbalannya setiap kau membuka matamu dipagi hari kau akan menemukan 2 uang dinar di sisimu yang bisa kau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu dan keluargamua, bisa juga kau gunakan untuk bersedakah kepada teman-temanmu. Bukankah hal ini lebih bermanfaat bagimu juga umat muslim dibandingkan dengan kau tebang pohon tersebut, apalagi pohon itu juga masih bisa dimanfaatkan, menebangnya tidak membawa keburukan juga keuntungan, tidak berimbas baik pula untuk saudara seimanmu,” rayu si kakek tua.

Si hamba mendengar nasihat si kakek tua jelmaan iblis. Dalam hati ia bergumam, “Benar juga apa yang dikatakan kakek tua ini, aku bukanlah seorang nabi sehingga wajib bagiku menebang pohon ini. Allah juga tidak memerintahkanku sehingga berdosa jika aku tak menebangnya. Semua yang tadi ia sebutkan juga sepertinya lebih banyak manfaatnya bagiku.” mantap.

Setelah dirasa omongan kakek tua itu bisa dipercaya, akhirnya mereka sepakat. Kembali ia ke pertapaannya tanpa menebang pohon.

Semalam berlalu. Di pagi hari, benar, ia dapati 2 dirham di sisi kepalanya. Tanpa sungkan ia mengambilnya. Di malam kedua hal yang sama masih terjadi. Setelah malam ke tiga. Ia tak lagi menjumpai 2 dirham tersebut. Serta merta ia murka, merasa ditipu oleh si kakek.

Ia bangkit membawa kapaknya ingin melanjutkan niatnya yang pertama, merobohkan pohon rindang. Lagi-lagi tanpa diduga ia bertemu iblis yang menyamar jadi kakek itu.

“Mau ke mana lagi kau?” tanya si kakek tua.

“Akan kutebang pohon itu!“, bara amarah meletup dari sorot matanya.

“Kau bohong, demi Allah kau tidak akan mampu melakukannya. Tidak pula akan kau temukan caranya.”

Kejadian yang sama terulang seperti yang telah lalu, namu kali ini ada yang mengherankan. Si hamba yang tempo hari dengan mudah menumbangkan kakek tanpa keringat mengucur, hari ini dihadapan kakek ia laksana bocah bau kencur.

Kekuatannya si hamba hilang seketika. Kakek duduk dengan tenang di atas dada pria tersebut. Kaget dengan kejadian yang baru menimpanya, tak diduga. Si hamba mencoba melakukan susuatu, tak ada jalan, ia lemah, kakek itu begitu tangguh sekarang.

“Jika kau urungkan rencanamu akan kulepaskan, jika tidak, tanpa segan kau akan ku sembelih,” ujar kakek tua mengultimatum.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Penasarannya pun juga masih misteri kenapa kakek ini begitu tangguh sekarang, apa kemarin ia hanya mengalah saja?.

“Baiklah, lepaskan aku. Lalu ceritakan tentangmu kenapa tempo hari aku mampu dengan mudah mengalahkanmu sedangkan di hari ini kau begitu perkasa?”, tanya si hamba.

Kakek tua itu melepaskannya. Ia bangkit.

“Dihari pertama amarahmu membara karena niatmu tulus karena Allah sengga Ia memudahkanmu untuk mengalahkanku. Namun pada hari ini, kau murka karena nafsu dunia, tak heran kau bagaikan bocah dihadapanku," jawab kakek tua tersebut.

Hikmah dari kisah ini adalah dengan niat tulus mengabdi kepada Allah semua akan dimudahkan. Namun semua akan terasa berat dan penuh beban jika kita berusaha hanya karena diperbudak nafsu dunia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya