Bermodal dari sisa biaya pengobatan dan melunasi utang suami, akhirnya Kadariah memberanikan diri mendaftar haji di kantor Kemenag setempat.
Sejak mulai mendaftar, perempuan yang dikaruniai dua anak tersebut mulai menyisihkan sebagian uang jatah belanja ataupun uang lain dari hasil dagangannya. Setiap hari Kadariah menyimpan uangnya di balik tikar kasur kamarnya dengan nominal yang tak pasti.
"Kadang Rp10 ribu, kadang ya ada Rp20 ribu, kadang juga Rp50 ribu. Kan biaya haji itu banyak, bukan cuma mendaftar. Tidak pasti berapa jumlah yang disimpan, tergantung berapa yang bisa disisihkan. Tapi setiap hari harus ada yang disimpan untuk ditabungkan," katanya.
Baca juga: Cerita Penjual Pencok Sisihkan Keuntungan demi Berangkat Haji Bersama Anaknya
Kadariah menyebutkan, untuk berjualan air yang sudah dimasak, rata-rata habis 12 galon per hari, dan jika lagi banyak pesanan orang bisa dapat Rp100 ribu per hari.
Mengumpulkan dan menyimpan uang di balik tikar, atau di bawah kasur untuk menggenapkan biaya pergi haji, dilakukan Kadariah tanpa sepengetahuan suaminya hingga tiada. Apalagi, upaya menabung tersebut tidak mengurangi biaya pendidikan kedua anaknya. Ternyata semua anaknya bisa sekolah dan tidak terganggu.

"Sekarang yang masih kuliah tinggal satu, di UPP Rohul, di belakang Kapolres Rohul. Satu lagi yang besar sudah menikah, itu pun hanya kerja buruh kasar. Ada orang buat batako, ngecat rumah orang, atau membuat jalan setapak dikerjakannya juga," kata Kadariah yang bangga kepada anak-anaknya itu.
Kadariah yang masuk daftar calon haji Kloter 18 BTH dari Kabupaten Rohul mengatakan menghidupi anak bungsunya yang masih kuliah bukan perkara mudah, terutama saat sudah mendaftar haji.
Baca juga: Curhatan Petani Kelapa Tidak Menyangka Bisa Berangkat ke Tanah Suci
Jauh sebelum berjualan air galon yang sudah dimasak di rumahnya tiga tahun belakangan, ia berjualan ikan basah di desanya. "Kalau dapat untung, Alhamdulillah. Kalau tak terjual ikan itu saya salah," katanya pilu saat mengenangnya.
Ibu dua anak ini pun membawa doa istimewa ke Tanah Suci. "Saya ingin berdoa biar dipermudah rezeki anak-anak saya sampai kehidupan mereka bisa lebih baik."
"Kalau bisa saya hanya ingin ibadah di sisa usia, semoga harapan ini terwujud. Waktu Duha ya Duha, Tahajud juga bisa, tapi kalau kita letih tidak mungkin sanggup beribadah maksimal," katanya.