Di era milenial sekarang ini media sosial menjadi salah satu pengaruh besar terhadap perilaku manusia zaman now. Mulai dari memperoleh informasi politik, fesyen, selebriti, hiburan, dan lain sebagainya semua bergantung kepada media sosial.

Tidak heran jika manusia sekarang ketergantungan terhadap media sosial. Media ini juga menghubungkan orang-orang dari Sabang sampai Marauke.
Namun kini penggunaan media sosial sering disalahgunakan. Banyak yang menggunakan Instagram, Facebook, Twitter atau pun media lainnya sebagai tempat mencaci-maki, menghina, mencela dan bahkan menyebar konten-konten negatif yang dapat memberi dampak buruk bagi para penggunanya.
Lantas bagaimana pandangan Islam terhadap hal ini? Berikut penjelasan Okezone, Rabu (24/7/2019).
Terkait penggunaan media sosial, Pendakwah Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah, mengingatkan kepada para pengguna media sosial melalui akun Instagram pribadinya @gusmiftah agar menggunakan media sosial dengan baik dan bijak.
Ia mengingatkan kepada orang-orang untuk memposting hal-hal positif dan bermanfaat di akun media sosial agar mendapatkan ridha dari Allah SWT. Sebagaimana dalam firman Allah:12:36
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berbicaralah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan “(Q.S:Yassin:65).
Terkait ayat tersebut, Gus Miftah pernah bertanya-tanya mengapa pada hari itu mulut manusia terkunci dan tangan manusia yang berbicara. Kini ia pun mengerti alasan Allah melakukan hal tersebut, yakni karena manusia kerap kali berbuat dosa dengan menggunakan tangan dan jari-jarinya. Salah satu dosa yang mereka perbuat adalah menghina, mencela serta menghujat orang lain di media sosial.
"Allah SWT berfirman dalam surat Yasin ayat 65, Satu hari di mana mulut manusia terkunci, tangan manusia berbicara. Kadang saya berpikir kenapa Allah mengatakan tangan yang berbicara. Jawabannya adalah karena begitu seringnya kita berbuat dosa dengan menggunakan tangan dan jari-jari kita."
"Kita mencela, menghina, menghujat, mencaci orang lain di media sosial dengan menggunakan tangan dan jari-jari kita. Kita posting sesuatu yang tidak ada nilai manfaat. Justru di dalamnya ada maksiat dan dosa. Maka seharusnya media sosial adalah wasilah untuk mendapatkan ridha-Nya bukan justru mendatangkan murka-Nya. Maha Benar Allah dengan segala firmannya," lanjutnya.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ”Dua orang yang saling menghina atas apa yang mereka ucapkan, dosanya adalah bagi orang yang memulainya selama orang yang dizhalimi tidak melampaui batas.”
Maka dari hadits diatas dapat dikatakan orang yang memulai mencaci akan mendapatkan dosa, karena dialah yang menyebabkan terjadinya percekcokan.
Lalu apabila orang yang dicaci membalas cacian secara berlebihan sehingga menyakiti orang yang memulai percekcokan, maka dia pun berdosa sebagaimana orang yang memulai percekcokan tersebut, bahkan dosanya lebih besar.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “ (QS. Al Hujuraat :11)
Dalam ayat ini tersirat makna larangan mencela kepada sesama manusia. Larangan ini bersifat umum, mencakup celaan terhadap segala hal. Imam At Thabari rahimahullah menjelaskan, “Allah menyebutkan secara umum larangan untuk mencela orang lain, sehngga larangan ini mencakup seluruh bentuk celaan. Tidak boleh seorang mukmin mencela mukmin yang lain karena kemiskinannya, karena perbuatan dosa yang telah dilakukannya, dan yang lainnya."
Maka sebaiknya gunakanlah media sosial dengan baik dan jadikanlah media sosial sebagai wadah untuk menebar kebaikan. Karena dengan kebaikan, manusia bisa saling berbagi kebahagiaan dan memberi banyak manfaat baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Allah SWT pun menyukai orang-orang yang berbuat baik.
"Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik". (QS. Al-Baqarah: 195)
“Jika kalian berbuat baik (berarti) kalian berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kalian berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS: Al Isra : 7).
"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)". (QS. Ar-Rahman: 60)
"Barang siapa yang berbuat kebaikan (sebesar biji dzarrah), niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang berbuat kejahatan (sebesar biji dzarrah), niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula." (QS. Az-Zalzalah: 7-8)
Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما من شيءٍ أثقل في ميزان المؤمن يوم القيامة من حسن الخلق، وإن الله يبغض الفاحش البذي
“Tidak ada sesuatupun yang lebih berat di dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat, dari akhlak yang baik. Dan sesungguhnya Allah membenci orang yang berakhlak jelek, lagi al-badzii’(orang yang berbicara dengan akhlak yang buruk, dan dengan perkataan yang kotor).” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata, “Hadis ini hasan shahih”)
(Dyah Ratna Meta Novia)