Suparno atau akrab disapa Mbah Parno, awal 2019 lalu diberikan satu unit rumah oleh Kementerian Agama, sebagai bentuk apresiasi baktinya pada Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

Hadiah rumah ini diberikan langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakin Saefudin tepatnya pada Jumat, 4 Januari 2019.
"Alhamdulillah. Saya tidak berharap. Namanya juga rezeki," kata Mbah Parno saat ditemui Okezone di rumahnya, Kemayoran, Jakarta Pusat Kamis, (8/8/2019).
Namun hingga saat ini Mbah Parno lebih memilih tinggal di rumahnya yang sudah ditinggali selama puluhan tahun. Sebab, kata Mbah Parno, lokasinya terlalu jauh dari Istiqlal dan masjid juga musala.
"Saya di sini saja (rumah lama), biar anak-anak yang tinggali nanti. Saya sudah tua, ya mau apa? Di sana juga jauh dari masjid," ujarnya.
Mbah Parno mengakui, memang lebih nyaman tinggal di tempat sederhana. Rumah yang telah diberikan Kemenag menurutnya, biarlah menjadi peninggalan untuk anak-anaknya.
"Rumah yang saya tinggali saat ini awalnya tempat pembuangan sampah. Cuma dikasih tempat sama orang lain, dan dulu dibangun gubuk. Tidak seperti sekarang (lebih baik)," kata Mbah Parno
Saat Okezone mendatangi rumahnya, memang terlihat sangat sederhana. Senada dengan keseharian Mbah Parno yang juga tidak ingin hidup bermewah-mewah.
"Saya di Jakarta sudah lama, dari zaman Presiden Soekarno. Dulu saya kuli untuk membangun Masjid Istiqlal, Lapangan Banteng dan Monas. Jadi, kalau kita ngejar dunia saja, ya gak bisa," katanya.
Anak bungsu Mbah Parno, Hardi Wantoro juga mengatakan, jika bapaknya memilih hidup sederhana. Hingga akhirnya masih ingin menetap di rumah lamanya yang dia (Mbah Parno) tinggali sekarang ini.
"Ya, gitu. Bapak memang seperti itu. Mengajarkan sama kita (anak-anaknya) hidup sederhana. Saya juga kerja di Istiqlal, nerusin Bapak. Tapi saya dan kakak saya masuk sana (Istiqlal) tidak menjual nama orangtua. Saya masuk sendiri," kata Hardi.
Hardi juga menceritakan, jika Bapaknya sering mengajarkan sejarah, khususnya Jakarta. Sebab Mbah Parno adalah saksi yang masih hidup berdirinya Jakarta.
"Bapak jadi kuncinya. Dia lama sekali tinggal di Jakarta. Awal Istiqlal berdiri, bapak yang ikut membangun. Dia jadi mandor dan sering mengantar surat-surat untuk urusan negara. Bapak juga tidak pernah pakai fasilitas negara. Seperti yang kita tahu, bapak memang memilih jalan kaki. Dikasih sepeda juga gak dipakai. Padahal itu fasilitasnya. Bapak cuma memakai tanda pengenal," katanya.
Staf Masjid Istiqlal sekaligus putri ke empat Mbah Parno, memang tidak ingin pindah rumah.
"Alhamdulillah, Bapak sampai saat ini sehat. Mungkin salah satunya dulu sering jalan kaki, dari rumah ke Istiqlal. Bapak tidak pernah mau naik kendaraan," ujar Noviana.
Noviana juga mengatakan, jika Bapaknya memang tidak ingin pindah ke rumah barunya karena lokasinya terlalu jauh.
"Rumah yang dikasih Kemenag ada di Parung. Bapak tidak mau pindah karena jauh dari Masjid Istiqlal. Tapi rumahnya sudah rapi, sudah direnovasi, cuma belum dialiri listrik saja," ujarnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)