nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Sayyidina Ali Membuat Malaikat Menahan Terbitnya Matahari

Novie Fauziah, Jurnalis · Kamis 22 Agustus 2019 01:56 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 22 330 2095049 cerita-sayyidina-ali-membuat-malaikat-menahan-terbitnya-matahari-v6cKjs6pcI.JPG Ilustrasi Malaikat Menahan Terbitnya Matahari agar Ali bin Abi Thalib Tak Ketinggalan Salat Jamaah

Di zaman Rasulullah SAW banyak sekali kisah yang kita bisa ambil hikmahnya. Ada sebuah kisah yang menceritakan ketika sayyidina Ali bin Abi Thalib hampir saja terlambat salat subuh berjamaah dengan Rasul.

Sebenarnya sayyidina Ali sudah bergegas menuju masjid karena dia selalu tepat waktu saat salat. Tapi di tengah perjalanan, dia bertemu dengan seseorang yang sudah tua. Berjalannya pun sangat pelan.

Masjid Nabawi di Madinah

Dikutip dari laman Pesantren Lirboyo, meski sedang terburu-buru tapi sayyidina Ali tidak mendahului orang tua itu. Sebagai rasa hormat dan memuliakan yang lebih tua merupakan salah satu akhlak mulia.

Matahari pun hampir terbit, ketika keduanya sampai di depan masjid. Namun ternyata, sayyidina Ali cukup terkejut karena orang tua itu tidak ikut salat berjamaah. Setelah diketahui, ternyata dia adalah seorang non muslim. Kemudian, sayyidina Ali segera masuk masjid dan ikut salat berjamaah tepat ketika Rasulullah sedang rukuk.

Tapi di sisi lain, para jamaah merasa ada yang janggal dengan salat Rasul kali ini karena tidak seperti biasanya. “Wahai Rasulullah. Mengapa engkau rukuk tadi begitu lama? Rukukmu tak pernah sepanjang ini sebelumnya,” tanya sahabat.

Kemudian Nabi menjawab; “ketika aku hendak bangun dari rukukku, Malaikat Jibril datang menyandarkan sayapnya di punggungku. Aku baru bisa bangun dari rukuk ketika ia mengangkat sayapnya.”

“Kenapa bisa begitu, Ya Rasul?”

“Aku tak sempat menanyakannya.”

Tiba-tiba Malaikat Jibril pun hadir di hadapan Rasulullah.

Masjid Nabawi tempat salat rasulullah

“Wahai Muhammad. Sungguh Ali hendak bergegas salat berjamaah bersamamu. Tapi kemudian ia bertemu seorang Nasrani tua di jalan, yang ia tak tahu keNasraniannya. Ia memuliakannya, dan tak mendahuluinya . Allah kemudian menyuruhku untuk menahan rukukmu, sampai dia bisa salat shubuh bersamamu.”

“Allah juga memerintahkan Malaikat Mikail untuk menahan matahari dengan sayapnya agar tak terbit, karena menghormati Ali.”

Kisah di atas sangat menarik dan banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Ustadz Malik Mughni mengatakan, cerita tentang sayyidina Ali benar adanya ketika zaman Rasulullah. "Ya, itu cerita masyhur," katanya saat dihubungi Okezone, Kamis (22/8/2019).

Ustadz Malik juga mengatakan, jika diperbolehkan membatalkan salat saat nahaya atau menolong orang yang sedang terancam bahaya. "Kewajiban salat dalam fikih masuk dalam kategori kewajiban yang ditetapkan waktunya," ujarnya.

Seperti dalam surat An-nisa ayat 103 bahwa salat diwajibkan kepada setiap mukmin, sebagai kewajiban yang telah ditetapkan waktunya (wajib muwaqqat). Karena salat dikategorikan sebagai wajib muwaqqat, maka pelaksanaannya terbatas oleh waktu yang telah ditetapkan.

Ustadz Malik juga menambahkan, dari lima waktu salat fardu, hampir semua (kecuali salat Magrib) punya waktu yang panjang. Ahli fikih menyebutnya sebagai wajib muwassa', yaitu kewajiban yang punya waktu longgar atau luas. Kecuali Magrib yang disebut sebagai wajib mudhayyaq (kewajiban dengan waktu yang sempit).

"Semua salat tersebut baiknya dilaksanakan awal waktu, atau minimal tepat waktu, tidak ditunda hingga akhir waktu. Tetapi jika ada udzur atau halangan tertentu, boleh diakhirkan. Di sejumlah pesantren, salat isya kerap dilaksanakan di pertengahan atau akhir waktu (sepertiga malam terakhir), karena ada udzur berupa ta'lim, atau pengajian," katanya.

Rasulullah Saw bersabda: “Jikakalaulah tidak memberatkan kepada umatku akan aku perintahkan mereka mengakhirkan salat ‘Isya sampai kepada sepertiga malam atau seperdua malam ” (HR. Abu Dawud, Atturmudzi, Annasa’I, Ahmad, Alhakim dan di shahihkan oleh Albani). Keterangan Hadis ini dapat dilihat di dalam kitab Syarhulkabir Mughni Almuhtaj oleh Ibnu Qudamah (hal 530 – 531 Juz 1).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini