Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Berhijrah Malah Jadi Sok Paling Suci? Ini Pesan Ustadz Fauzan Amin

Dewi Kania , Jurnalis-Sabtu, 31 Agustus 2019 |19:05 WIB
Berhijrah Malah Jadi Sok Paling Suci? Ini Pesan Ustadz Fauzan Amin
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
A
A
A

FENOMENA hijrah untuk mendalami agama Islam banyak dilakukan oleh kalangan milenial. Bukan sekedar mengubah penampilan saja, tetapi perilaku mereka juga terlihat berbeda.

Biasanya bagi orang yang baru hijrah, untuk perempuan dengan pakaian hijab saja sudah terasa sangat Islami. Begitu juga saat belajar membaca Alquran, serta melakukan salat tepat waktu dan bangun Tahjjud malam.

Dengan melakukan hal itu, mereka bahkan merasa sangat top dalam mendalami Islam. Malahan ada juga banyak ekspresi yang ditunjukkan seseorang pasca-hijrah. Rupanya, banyak orang di sekitar kita mengalami hal tersebut.

Dengan melakukan hal itu, mereka bahkan merasa sangat top dalam mendalami Islam

Diungkapkan Ustadz Fauzan Amin, misalnya saja setelah hijrah, tiba-tiba seseorang jadi membatasi pergaulan. Mungkin awalnya akrab dengan teman, kemudian mendadak tertutup. Sebab dia dihantui rasa takut terpengaruh dengan dunia lamanya.

Atau mereka menutup diri dari media sosial, dengan cara menghapus foto-foto di Instagram, Facebook, Twitter dan lainnya. Dengan tujuan takut mengumbar aib masa lalunya.

"Ada juga awalnya pendiam justru setelah hijrah jadi aktif, suka ngasih saran teman-teman dan keluarganya, suka melontarkan dalil. Ada juga yang agak ekstrem. Pasca-hijrah malah suka menyalahkan dan cenderung mendekati orang lain, tampak egois dan terlihat sok pinter, sok paling suci sendirian," kata Ustadz Fauzan Amin saat dihubungi Okezone.

Allah SWT berfirman,

فلا تزكوا انفسكم هو اعلم بمن اتقى

Artinya: "Jangan kalian merasa sok paling suci. Karena hanya allah yg paling tau siapa yg paling bertakwa".

Berbeda dengan para santri, dari kecil sudah terdidik Islami di pesantren. Mereka sudah terbiasa salat lima waktu, tampil berhijab untuk perempuan, hapal Alquran, membaca kitab klasik, hingga Tahajjud malam.

Di mata mereka, hal seperti itu tidak dianggap istimewa. Walaupun ilmu agamanya tinggi, mereka tetap tawadhu, rendah hati, tidak sombong, sopan, serta tetap fokus giat belajar agama.

mereka tetap tawadhu, rendah hati, tidak sombong, sopan, serta tetap fokus giat belajar agama.

"Jika ada yang mau hijrah silakan dan tidak perlu diolok-olok. Bagi yang sudah hijrah, juga tidak perlu kagetan dan sok-sokan," terang Ustadz Fauzan Amin.

Ustadz Fauzan Amin mengingatkan, daripada sibuk mengurus aib orang lain, lebih baik fokus untuk memperbaiki aib diri sendiri.

Rasulullah bersabda,

وعن أنس -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وعلى آله وسلم-: « طوبى لمن شغله عيبه عن عيوب الناس » أخرجه البزار بإسناد حسن.

Artinya: "Beruntung orang yang sibuk mikir aib sendiri daripada sibuk mikir aib orang lain. Jangan pernah merasa pinter dan merasa cukup belajar. Karena kebodohan datang saat kau berhenti belajar. Dan orang alim adalah mereka yg selalu haus akan ilmu pengatahuan".

Nabi bersabda,

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠم : ﺛﻤﺎﻧﻴﻪ ﺍﺷﻴﺎﺀ ﻻﺗﺸﺒﻊ ﻣﻦ ﺛﻤﺎﻧﻴﻪ: ﺍﻟﻌﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻈﺮ ، ﻭﺍﻻﺭﺽ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻄﺮ، ﻭﺍﻻﻧﺜﻰ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻛﺮ ، ﻭﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ ،

ﻭﺍﻟﺴﺎﺋﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﻪ، ﻭﺍﻟﺤﺮﻳﺺ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻤﻊ ، ﻭﺍﻟﺒﺤﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺀ ، ﻭﺍﻟﻨﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻄﺐ

Artinya: "Ada delapan perkara yg tak pernah merasa cukup akan delapan perkara. Mata dari memandang, bumi dari air hujan, wanita dari laki-laki, seorang alim dari ilmu, yang bertanya dari persoalan, orang yang tamak dari mengumpulkan harta, lautan dari air dan api dari kayu bakar".

"Apapun kondisinya, konsep hijrah itu hal positif. Kalau belum bisa hijrah 100%, maka pelan-pelan dilakukan dan terus berproses menuju yang terbaik," pungkasnya.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement