nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Hijrah Pecandu Narkoba, Anak Cucu Jangan Sampai Seperti Saya

Novie Fauziah, Jurnalis · Selasa 10 September 2019 00:25 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 10 614 2102725 kisah-hijrah-pecandu-narkoba-anak-cucu-jangan-sampai-seperti-saya-lJ8ptL4H5s.jpg Pecandu Narkoba Hijrah

Sempat masuk ke dunia kelam karena terbawa pergaulan, Amid (37) akhirnya bisa bangkit dan lepas dari belenggu narkoba. Kini mantan pecandu narkoba itu giat bertani di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Amid sengaja menuturkan kisah kelam hidupnya agar orang lain tak terjerumus ke lubang yang sama. Bertemu mantan pecandu narkoba memang menyajikan banyak pelajaran hidup: bangkit dari keterpurukan. Amid bisa menjadi inspirasi bagi kita semua, bahwa selama ada tekad, usaha, dan doa, kita bisa bisa berubah menjadi lebih baik.

“Saya nyesel dan tobat. Dulu sempat masuk ke dunia kelam karena terbawa pergaulan. Cukup saya saja yang pernah begini. Anak cucu keturunan saya jangan sampai seperti saya,” ujar Amid dengan suara bergetar, air matanya pun berlinang.

Pernah menjadi pecandu narkoba membuat hidup Amid berantakan. Istri dan anak menjadi tidak terurus. Orangtua pun malu menganggapnya sebagai anak. “Orang tua, istri, dan anak adalah semangat saya kembali untuk bangkit. Saya gak mau nyusahin mereka lagi,” terangnya.

Jalan hijrah memang penuh tantangan. Selepas Amid bebas dari cengkraman narkoba, ia berhadapan dengan sulitnya mencari nafkah. Hanya lulusan SD membuat Amid sulit mencari pekerjaan.

Pekerjaan apapun selagi halal dilakoni Amid. Mulai dari menjaga lapak orang di pasar, buruh serabutan, buruh tani, hingga buruh pasang tenda. Namun penghasilan Amid yang tak menentu dan kecil belum bisa memberikan kehidupan layak bagi keluarga. Rezeki pun akhirnya datang di akhir tahun 2017 lalu.

Amid diajak temannya untuk mendaftar menjadi petani binaan program Desa Tani di Kampung Areng, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Amid pun diterima menjadi petani binaan bersama 11 petani lainnya.

Melalui program Desa Tani, 12 kepala keluarga jadi petani binaan. Selama dua tahun, Amid dan petani lainnya mendapatkan pendampingan dan dukungan modal.

Mereka disewakan tanah milik pihak ketiga seluas 1,2 hektare selama dua tahun untuk dikelola. Selain itu, mereka mendapatkan bantuan produksi pertanian seperti bibit, pupuk, dan obat.

“Alhamdulillah sekarang hidup saya setidaknya lebih baik. Saya punya keterampilan dan ilmu tentang dunia tani. Lebih penting lagi saya bisa nyekolahin anak saya,” terang Amid bersyukur.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini