nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jejak Islam dalam Masjid Agung yang Bentuknya Berubah Setahun Sekali

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Rabu 18 September 2019 15:26 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 18 614 2106382 jejak-islam-dalam-masjid-agung-yang-bentuknya-berubah-setahun-sekali-BAlGgHhRbA.jpg Masjid Agung Kota Djene. Foto: Paul De Roos - BBC

JEJAK Islam nampak jelas di daratan yang panas, Kota Djene, Mali Selatan. Di sini ada budaya “membangun” masjid dari lumpur yang bentuknya berubah setahun sekali.

Bertengger di dataran antara Sungai Niger dan Bani, Djenne yang telah dihuni sejak 250 SM, menjadikannya salah satu kota tertua di kawasan Sub-Sahara Afrika. Kota yang penuh jejak Islam ini berkembang antara abad ke-13 dan ke-18, sebagai pusat transportasi untuk komoditas seperti garam dan emas.

Saat itu Kafilah dagang datang sambil membawa cendekiawan dan penulis untuk memperkenalkan Islam. Kemudian hingga sekarang denyut kehidupan Islam terus berdetak, yang mana hal itu ditunjukkan dengan banyaknya santri membaca Alquran di jalan-jalan Djene, serta masih aktifnya masjid yang kala itu dibangun.

Masjid tersebut yakni Masjid Agung yang dirancang dari materi lumpur. Dengan tinggi hampir 20 meter dan dibangun di atas lahan sepanjang 91 meter, Masjid Agung ini diklaim sebagai bangunan terbesar di dunia yang terbuat dari lumpur.

Foto: Peter Yeung - dok BBC

Namun karena terbuat dari lumpur, tentu saja Masjid Agung ini butuh perawatan khusus, setidaknya supaya tidak runtuh ketika musim hujan tiba, yakni sekitar Juli dan Agustus.

Sebagai antisipasi, pada Apri, muslim setempat merekontruksi Masjid Agung melalui acara yang disebut Festival Crepissage (Festival memasang plester). Ketika Crepissage berlangsung selama seharian, kelompok dari setiap dusun di Djenne berlomba untuk memplester ulang masjid, dengan penuh kehati-hatian dan ketelitian.

Foto; Paul De Roos - dok BBC.

Seluruh masyarakat berkontribusi dalam perayaan jejak Islam ini, di mana masing-masing kelompok melakukan tugas yang berbeda-beda.

Selain pekerjaan utama merenovasi masjid, para pria ditugaskan untuk mempersiapkan material konstruksi yang disebut banco, yaitu campuran tanah liat dari sungai terdekat, dedak, minyak kacang, bubuk baobab dan air.

Mereka berlarian ke sana kemari, menaruh seonggok besar banco ke dalam keranjang anyaman dan berlari ke masjid.

Di bawah pengawasan serikat kerja yang terdiri dari 80 tukang batu senior - profesi yang sangat dihormati di Djenne - para pemuda memenuhi muka bangunan sambil membawa keranjang anyaman yang dipenuhi tanah liat basah untuk ditempelkan tebal-tebal ke dinding masjid.

Masing-masing kelompok bersaing satu sama lain untuk menyelesaikan bagian mereka terlebih dahulu. Menang adalah hal yang sangat membanggakan bagi para peserta, sebab sang juara akan mendapat hadiah uang sebesar 50.000 franc CFA Afrika Barat, atau sekitar Rp1,1 juta. Jumlah uang terbilang besar karena sebagian besar penduduk Kota Djene berpenghasilan kurang dari £ 1, atau sekitar Rp17.500 sehari.

Meski sudah dibenahi, hujan yang mengguyur tetap merusak masjid ini sehingga bentuknya sedikiti berubah. Hal ini pula yang membuat bentuk Masjid Agung berubah setiap tahun, dan “dibangun” atau direkonstruksi lagi setiap tahun.

Terlepas dari sejarahnya selama berabad-abad, Masjid Agung ini tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat modern.

"Masjid Djenne adalah simbol kohesi sosial setiap tahun, partisipasi komunal dalam pekerjaan pemeliharaan menunjukkan rasa kebersamaan dan ekspresi bagaimana cara hidup bersama," kata Balassin Yaro, Wali Kota Djenne, sebagaimana dilansir dari BBC pada Rabu (18/9/2019).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini