nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Informasi Teknologi, Sumber Daya Insani dan Masa Depan Bangsa

Kamis 26 September 2019 12:26 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 26 330 2109562 informasi-teknologi-sumber-daya-insani-dan-masa-depan-bangsa-ygQPp6L03S.jpg Artificial Intelligence yang mengancam eksistensi manusia (Foto: Savvy)

Perkembangan dunia industri begitu pesat. Dari mulai manual, kemudian memanfaatkan mesin, dan kini menggunakan teknologi digital yang sangat memudahkan kinerja dan memacu produksi dan distribusi komoditas. Kecerdasan manusia digabungkan dengan mesin yang disertai pemanfaatan informasi, komunikasi, dan teknologi. Kita mengenalnya dengan sebutan industri 4.0.

Melalui proses ini akantercipta ekosistem largest digital megatrend yang dapat menjembatani dunia fisik kita dan virtual. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa komponen utama yang mendukung visi Industri 4.0 adalah tersedianya smart factory, smart products, dan smart services (Vogel Communications Group).

Kunci yang dapat memastikan keberhasilan semua proses tersebut adalah tersedianya konektivitas yang bukan sekadar menghubungkan semua komponen yang diperlukan, tapi juga sarana yang memberikan fleksibilitas dan value creation. Sentralisasi adalah kunci. Kalau pun ada komponen yang harusdilaksanakan secaraterpisah, perlu dipastikan bahwa hal ini hanya dilakukan dalam skala yang kecil dan tetap mempunyai AI (artificial intelligence) yang mempunyai kemampuan untuk membuat keputusan.

Lee Kai Fu, salahseorang pioneer di bidang AI memprediksi bahwa dalam jangka waktu 15 tahun AI akan menggantikan fungsi 40 persen dari segala jenis pekerjaan. Manusia bukan lagi pilihan utama atau satu-satunya untuk diperkerjakan di bidang tersebut.

Hal yang berlaku berulang-ulang termasuk melakukan fungsi tertentu sebagai bagian dari produksi adalah salah satu contoh pekerjaan. Sudah banyak pekerja-pekerja pabrik digantikan dengan AI. Namun hal ini tidak akan berhenti di situ. Pekerjaan lain yang cukup bergengsi namun sangat bergantung kepada kecerdasan dapat dengan mudah digantikan oleh fungsi AI, seperti akuntansi, jasa kesehatan, pemasaran, jasa hukum, jasa pariwisata dan lain sebagainya. Namun ada hal yang belum dapat digantikan AI, yaitu faktor emosi. Juga ada kreatifitas serta sentuhan rohani yang tak dapat digantikan AI.

Terkait emosi hal ini diakui Lee. Dia memberikan contoh mengenai pelayanan pelanggan. Walau pun robot dapat memberikan informasi atau menawarkan Q&A mengenai jasa atau produk tertentu, konsumen masih lebih memilih untuk berbicara dengan orang yang bekerja melayani pelanggan. Tidak jarang komunikasi yang disampaikan mengandung elemen di mana pelanggan berharap ada yang mendengar keluhan mereka dan memberikan respons atas emosi yang tercurah saat menyampaikan keluhan tersebut.

Kreatifitas adalah faktor lain yang tidak dapat dengan mudah digantikan robot atau mesin. Komputer dapat dengan mudah mengambil alih perkerjaan yang bersifat rutin, pengulangan atau hitung-menghitung. Bahkan dapat dikatakan bahwa komputer akan dapat melakukan tugas tersebut lebih baik dari manusia yang masih dapat melakukan kesalahan dan mempunyai keterbatasan dalam kemampuannya.

Dengan demikian tidak mustahil apabila dengan terus berjalannya revolusi industri 4.0 dunia pekerjaan secara natural akan menyaring SDM yang kompetitif, memperluas kesempatan kerja di area yang memerlukan interaksi dengan manusia. Tidak dapat dengan mudah digantikan oleh AI. Hanya IT yang akan menjadi semakin relevan. Lain itu, akan dialihkan pelaksanaan fungsinya dari manusia ke AI.

Ada dua jenis IT yang saya maksudkan dalam kontekstersebut: pertama, IT sebagai singkatan dari informasi-teknologi yang tentu saja menjadi tulang punggung revolusi industri 4.0. Arti kedua adalah iman dan takwa yang memastikan sustainabilitas dalam segala proses kehidupan manusia.

Terkait makna yang pertama, teknologi informasi tidak lebih dari hal duniawi. Di dalam Alquran surah Luqman ayat 33 Allah Ta’ala mengingatkan, “Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakamu.” Kita telah diingatkan bahwa hal-hal duniawi ini tidak ada habisnya dan hanya akan menyibukkan manusia.

Mengejar sisi ini hanya akan menghadapkan manusia kepada constant competition – persaingan yang tiada habisnya. Menceburi bidang ini memang menawarkan insentif yang sangat menggiurkan, namun juga mengeskpose pelakunya kepada dua hal: (1) //high risk of failure//; dan (2) //high risk of absurdity//. Kita sudahmelalui episode di mananegara-negara di dunia berlomba-lomba untuk menguasai dan menjuarai di bidang IT.

Silicon Valleys bermunculan. Investor dan industri keuangan berlomba-lomba untuk turut mendapat keuntungan dari perusahaan-perusahaan IT. New start-ups yang berubah dari zero menjadi hero dalam waktu singkat. Tidak sedikit juga perusahaan-perusahaan IT yang telah menjadi ‘hero’ kemudian kalah bersaing dengan pendatang baru dan menjadi zero kembali dalam jangka waktu yang tidak kalah singkatnya.

Netscape adalah salah satu contoh perusahaan yang suatu saat dulu mendominasi namun akhirnya kalah total kepada Internet Explorer. Friendster yang akhirnya dikalahkan Facebook. Ketika itu begitu banyak yang terlena, melupakan bahwa if something seems too good to be true, it probably is.

Akhirnya tren tersebut membengkak sebelum akhirnya gelembung teknologi informasi atau yang lebih dikenal dengan dot-com bubble sempat membengkak itu pun meletus dan mengorbankan cukup banyak perusahaan IT. Termasuk Pets.com, webvan.comdaneToys.com yang menawarkan ide-ide brilian. Namun sepertinya terlalu dini untuk era tersebut.

Kegagalan-kegagalan itu membuat pemilik modal dan industri keuangan menjadi lebih berhati-hati. Namun tentu saja sifat manusia yang rakus dan selalu ingin mengejar keuntungan serta mudah lupa atas pengalaman pahit yang pernah dilalui memposisikan kita kembali ke situasi serupa hanya pada area yang berbeda: kalau dulu dot com, sekarang fintech.

Dengan catatan tersebut, apakah berarti menguasai IT dan teknologi terkini masih perlu dilakukan? Tentu saja,walau pun kompetisi akan terus berlanjut sesuai fitrah kehidupan sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Hadid ayat 20, yang artinya, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak...”

Apakah berarti IT tidak penting? Bukan demikian. Walau pun manusia diciptakan untuk menyembah Allah, untuk beribadah kepadanya, namun kita diingatkan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan sebagaimana firman Allah SWT, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeriakhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagian mu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu” (al-Qashash: 77).

IT dalam arti informasi-teknologi bukan segalanya. Sudahcukupbanyakpribadi-pribadi yang menguasai dan menjadi ahli dalam bidang tersebut. Mari kita fokus ke IT yang satunya, yaitu iman dan takwa. Betul teknologi dapat dimanfaatkan untuk tujuan dakwah, namun robot, AI, apa pun itu tidak akan dapat menggantikan keefektifan dakwah para da’i, murabbi, dan pribadi-pribadi yang mendedikasikan ilmu serta waktunya untuk memperkuat IT yang berarti iman dan takwa. Elemen ini tertanam dalam diri, keluarga, golongan dan bahkan masyarakat luas.

Mereka yang turut berjuang dalam peningkatan keimanan dan ketakwaan adalah individu-individu yang cerdas. Karena saat akhirat yang menjadi tumpuan utama, maka Insya Allah akan mendapatkan akhirat dan dunia sekaligus.

Saat diri dan karakter sudah kita perkokoh dengan IT – Iman dan Takwa; setelah kita pastikan Alquran selalu ada untuk menjaga kita dalam setiap langkah, kita perlu menerima IT – Information Technology dengan terbuka. Kita manfaatkan sarana yang ada untuk mempertajam perjuangan membangun negeri.

Dengan begitu, sumberdaya insani akan semakin berkualitas. Pembangunan akan berlangsung secara lahir dan batin. Masa depan bangsa ini akan unggul dalam kompetisi global.

Oleh Hurriyah El Islamy, PhD

IMF Expert in Islamic Banking and Islamic Capital Markets

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini