Awalnya keluarga Gus Miek kurang setuju. Abah Gus Miek (KH. Djazuli bin Utsman) tidak setuju karena gadis tersebut kurang memiliki pengetahuan mengenai agama Islam. Lalu ada salah satu kyai di pondok Al-Falah yang mengatakan bahwa gadis itulah yang mampu menjadi pendamping Gus Miek.
Gadis tersebut ialah Lilik. Ia seorang pemain tenis meja yang handal. Sering mengikuti pertandingan membuatnya tidak pernah mondok atau sekolah yang ada hubungannya dengan pelajaran agama Islam. Akan tetapi Gus Miek menyukainya dan menikahinya.
Sewaktu Nyai Lilik menjadi istrinya, malam pertama sampai malam ke 30 Nyai Lilik tidak pernah keluar kamar. Itu merupakan kemauan dari Gus Miek. Selama 30 hari di kamar tidak boleh bertemu dengan siapapun kecuali dengan Gus Miek.
Apabila beliau lapar, makanan akan diantarkan ke kamarnya dan segala kebutuhan disiapkan oleh Gus Miek. Ini adalah cara Gus Miek mengajari istrinya ilmu-ilmu agama dan 30 hari itu pulalah Lilik menghafal Al-Quran 30 juz.
Lilik sangat berubah setelah menikah dengan Gus Miek. Ia yang awalnya hanya seorang wanita biasa, pemain tenis meja yang tidak mengerti kaitannya dengan ilmu-ilmu agama, menjadi mengerti ilmu-ilmu agama karena diajari oleh Gus Miek.
(Abu Sahma Pane)