Tak Mau Terkena Penyakit? Ini Resepnya dalam Islam

Dian Fitriyanah, Jurnalis · Jum'at 18 Oktober 2019 16:23 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 18 614 2118692 tak-mau-terkena-penyakit-ini-resepnya-dalam-islam-KLPeFSafhf.jpg Memaafkan kesalahan orang (Foto: Bravo TV)

Setiap orang pasti tak mau terkena penyakit oleh karena itu banyak orang yang berusaha hidup sehat, termasuk menghindari rokok dan alkohol.

Namun sejatinya agar tak terkena penyakit, bukan hanya hidup sehat secara fisik saja, kesehatan emosional juga penting dijaga. Dalam Islam, ternyata kita dianjurkan untuk menjadi seorang pemaaf agar tak mudah terkena penyakit.

 Larangan mudah marah

Dikutip dalam 'Buku Pintar Sains dalam Alquran' bahwa di dalam Al-Quran maupun hadist banyak ayat yang meyeru manusia agar memaafkan kesalahan orang lain. Sifat pemaaf inilah yang sering kali tidak dimiliki oleh sebagian besar umat manusia. Jadi lebih mudah marah dibandingkann mau memaafkan.

Dalam Surat Al-Hijr Ayat 85 disebutkan,

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ ۖ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ Arab-Latin:

Wa mā khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā illā bil-ḥaqq, wa innas-sā'ata la`ātiyatun faṣfaḥiṣ-ṣaf-ḥal jamīl Terjemah

Arti: Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.

Demikian pula dalam sunah Nabi, banyak hadist yang menganjurkan untuk memaafkan kesalahan orang lain dan menyingkirkan kedengkian dalam hati.

"Sambunglah silatuhrahmi dengan orang yang memutusnya dan berbuat baiklah kepada orang yang telah bersikap buruk kepadamu. Katakan yang benar walaupun terhadap dirimu sendiri." (Riwayat Hadist Ibnu an-Najjar)

Memaafkan orang yang bersalah tidak berarti terus melanjutkan hubungan dengan tetap menjaga perasaan terhadapnya. Namun melupakan sikap buruknya dan menjauhkannya dalam ingatan. Dengan demikian akan hilang pula amarah terpendam dalam hati kepadanya.

Marah itu tak baik bagi kesehatan tubuh sebab saat seseorang marah, maka tubuhnya akan bergejolak dan tekanan darahnya naik sehingga ia mudah terserang penyakit, baik fisik maupun psikis.

Bahkan sebuah riset ilmiah menyimpulkan, amarah yang berkelanjutan dapat mengurangi usia manusia. Oleh sebab itu, Nabi menganjurkan umat Islam agar menghindari sifat pemarah.

Dalam dunia medis juga terbukti ada hubungan antara stres dan kemarahan dengan penyakit jantung, serta penyakit kardiovaskular lainnya.

Saat orang mengalami stres dan ia mulai melontarkan amarahnya, hormon adrenalin menjadi terpacu lebih cepat. Kondisi tersebut juga berdampak pada tekanan darah orang tersebut. Hal ini dijelaskan oleh dr Arieska Ann Soenarta, SpJP, FIHA.

"Kalau kita marah-marah, terjadi peningkatan terhadap hormon adrenalin. Adrenalin menyebabkan suatu spasm atau mengecilnya pembuluh darah," jelas dr Ann.

Mengecilnya pembuluh darah ini menyebabkan tekanan darah tinggi, sehingga tensi meningkat. Ini bisa menjadi faktor risiko tambahan terjadinya risiko penyakit jantung, maupun stroke.

Oleh karena itu, sangat penting menjadi orang yang pemaaf dan berusaha menghindari marah-marah untuk menghindari penyakit hingga pada fisik dan psikis kita.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini