nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Belajar Makna Kehidupan dari Rendang ala Ustadz Fatih Karim

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 31 Oktober 2019 13:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 31 614 2124064 belajar-makna-kehidupan-dari-rendang-ala-ustadz-fatih-karim-5N0WXIVZjp.jpg Rendang yang lezat (Foto: Smokeandumami)

Kuliner Indonesia memang memiliki keunikan masing-masing tak terkecuali rendang yang lezat. Di balik kelezatannya, rendang ternyata menyimpan makna filosofis yang mendalam tentang kehidupan.

Hal ini dijelaskan secara gamblang oleh Ustadz Fatih Karim, melalui channel Youtube Cinta Quran TV. Pria yang lahir dan tumbuh besar di Medan, Sumatera Utara, ini mengaku sudah sangat familiar dengan rendang yang lezat tersebut.

 Belajar kehidupan dari rendang

Rendang bahkan menjadi hidangan favorit Ustadz Fatih sejak masih kanak-kanak. Berawal dari kecintaannya itu, sang ayahanda tercinta pun menceritakan sebuah kisah menarik seputar rendang yang hingga saat ini masih membekas di hati dan pikirannya.

"Ayah saya pernah cerita tentang kisah rendang dalam balutan bahasa anak-anak. Jadi, kita selama ini hanya tahu rendang itu sudah jadi, hitam bumbunya, meresap ke daging, dan rasanya enak. Tapi tidak ada yang tahu kisah atau perjalanan rendang sampai berada di atas meja makan," ujar Ustadz Fatih Karim.

Lebih lanjut, Ustadz Fatih menjelaskan, kisah ini berkaitan erat dengan salah satu bahan dasar untuk membuat olahan rendang yakni, kelapa. Sebelum sampai ke dapur rumah, kelapa tentu harus diambil terlebih dahulu dari pohonnya.

Prosesnya pun terbilang panjang. Buah ini harus dijatuhkan dan terpisah dari pohon induknya. Menurut Ustadz Fatih, proses tersebut sebetulnya juga dapat menggambarkan kehidupan manusia.

"Bayangkan penderitaan kelapa, ia diambil, dibanting dan dijatuhkan hingga terpisah dari ibu dan keluarganya. Penderitaannya ini belum berakhir, proses masih sangat panjang," tutur Ustadz Fatih saat menceritakan kembali kisah dari ayahnya yang dibalut dalam bahasa 'anak-anak'.

Ia melanjutkan, begitu terjatuh, kelapa yang dianggap sudah tua itu harus dipecahkan kepalanya dan ditarik serabutnya. Bayangkan pula betapa sakitnya ia harus berpisah dari bagian tubuh yang selama ini melindungi, menguatkan, dan menjaga tubuhnya.

Tidak sampai disitu saja, batok kelapa itu akan dipecahkan lagi untuk dikeluarkan airnya. Air inilah yang selalu ia jaga dan ia simpan dengan sekuat tenaga.

"Bukan hanya air, penderitaan kelapa berlanjut saat buah kelapanya diambil lalu diparut menggunakan mesin. Kini yang tersisa hanya ampasnya. Apakah penderitaan kelapa sudah berakhir? Belum saudara-saudaraku," terang Ustadz Fatih.

Santan kelapa kemudian dimasukkan ke dalam tungku dan dibakar dengan api sampai mendidih. Jadi setelah ia terjatuh, dipecahkan, diparut, kini ia harus dibakar lagi.

Kelapa pun bertanya kepada Allah SWT, "Sampai kapan cobaan ini berakhir? Rasanya hidup ini hanya dipenuhi ujian dan penderitaan yang tidak ada ujungnya."

"Dan lagi-lagi, cobaan kelapa belum berakhir. Kata tukang rendang ia harus dicampurkan lagi dengan daging, cabai, dan bumbu-bumbu sebelum akhirnya dimasak dalam waktu yang cukup lama," tegas Ustadz Fatih Karim.

Lalu apa yang bisa dipetik dari kisah kelapa dan rendang ini? Ustadz Fatih menjelaskan bahwa proses pembuatan rendang ini sama saja seperti proses kehidupan manusia.

Seseorang membutuhkan waktu dan proses sebelum meraih kesuksesan. Namun sayangnya, masih banyak orang yang ingin cepat sukses, tapi tidak mau menjalani prosesnya.

"Kalau kita punya beban, cobaan, jangan menyerah itu adalah kisah yang nanti bisa jadi cerita. Ini adalah pelajaran kehidupan. Oleh karena itu sahabatku, marilah kita semangat menjalani kisah-kisah hidup kita karena semua orang pasti punya cerita," ungkap Ustadz Fatih.

"Kalau ada sedikit kesulitan atau ada sedikit kendala, jangan mengeluh! Itu adalah proses dari kehidupan," tukasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini