nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rumah Tangga Abdul Somad "Retak", Ini Hukum Perceraian dalam Islam

Novie Fauziah, Jurnalis · Kamis 05 Desember 2019 11:39 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 05 330 2138228 rumah-tangga-abdul-somad-retak-ini-hukum-perceraian-dalam-islam-mEagT52tK1.jpg Ilustrasi. Foto: Istimewa

KABAR mengejutkan datang dari Ustadz Abdul Somad (UAS), sebab ia telah menceraikan istrinya, Mellya Juniarti. Kabar mengenai "keretakan" rumah tangga mereka dibenarkan oleh kuasa hukum ulama asal Riau itu, Hasan Basri.

Lalu bagaimana hukum Islam mengenai perceraian seperti yang dialami Abdul Somad? Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadist Indonesia Ustadz Fauzan Amin mengatakan, cerai merupakan sesuatu yang dibolehkan dan halal. Namun tetap saja perbuatan tersebut adalah sesuatu yang dibenci Allah.

"Tapi cerai adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah. Artinya talaq adalah sesuatu yang harus dihindari, selama masih bisa dipertahankan maka opsi memelihara keutuhan rumah tangga itu lebih utama," ujarnya saat dihubungi Okezone, Kamis (5/12/2019).

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Fauzan kemudian mengatakan bahwa Ibnu Umar dari Nabi Muhammad SAW bersabda:

أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلَاقُ

"Halal yang paling dibenci Allah adalah thalak"

(HR: Abu Daud)

Fauzan mengatakan, walau sebagian ahli hadist menyebutkan bahwa hadist tersebut adalah dhoif, namun bisa dijadikan landasan dalam memotivasi keutuhan rumah tangga Anda.Tentu saja hadis ini juga bisa dijadikan setiap Muslim, termasuk Abdul Somad.

Terpenting adalah sebisa mungkin menghindari atau menjatuhkan talak kepada istri. Kemudian thalak sebagai opsi terkahir dalam mengambil keputusan, apabila percerain itu ada kaitannya dengan persoalan akidah atau akhlak.

"Dalam kondisi konflik yang sulit diselesaikan berdua, maka libatkanlah orang yang dipercaya, seperti keluarga untuk membantu mediasi atau menengahi jika terjadi konflik," ujar Fauzan.

Seperti disebutkan dalam Surat An Nisa ayat 35 yang menerangkan, tentang konflik di dalam rumah tangga, yaitu:

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

Wa in khiftum syiqāqa bainihimā fab'aṡụ ḥakamam min ahlihī wa ḥakamam min ahlihā, iy yurīdā iṣlāḥay yuwaffiqillāhu bainahumā, innallāha kāna 'alīman khabīrā

Artinya: "Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,"

Namun jika perceraian itu benar-benar terjadi, maka tidak boleh mengambil kembali pemberian suami atau istri. Terkecuali dengan alasan tertentu yang berkaitan dengan agama.

"Jika perceraian terjadi maka tidak boleh mengambil lagi pemberian suami atau sebaliknya,"

Pernyataan itu senada dengan Surat Al Baqarah ayat 229, Allah berfirman:

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Aṭ-ṭalāqu marratāni fa imsākum bima'rụfin au tasrīḥum bi`iḥsān, wa lā yaḥillu lakum an ta`khużụ mimmā ātaitumụhunna syai`an illā ay yakhāfā allā yuqīmā ḥudụdallāh, fa in khiftum allā yuqīmā ḥudụdallāhi fa lā junāḥa 'alaihimā fīmaftadat bih, tilka ḥudụdullāhi fa lā ta'tadụhā, wa may yata'adda ḥudụdallāhi fa ulā`ika humuẓ-ẓālimụn

Artinya: "Thalak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim".

"Intinya, agama memperbolehkan talak jika ada alasan yang bisa dibenarkan. Misal sudah tidak memungkinkan lagi untuk menpertahankan kehidupan rumah tangga, atau alasan karena persoalan Akidah dan lain-lain," pungkas Fauzan.

Redaksi Okezone menerima foto atau tulisan pembaca berupa artikel tausyiah, kajian Islam, kisah Islam, cerita hijrah, kisah mualaf, event Islam, pengalaman pribadi seputar Islam, dan lain-lain yang berkaitan dengan Muslim. Dengan catatan foto atau artikel tersebut tidak pernah dimuat media lain. Jika berminat, kirim ke redaksi.okezone@mncgroup.com, cc okezone.lifestyle2017@gmail.com.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini