King Abdul Aziz International Centre for Interfaith and Intercultural Dialogue (KAICIID), Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), bekerjasama dengan Center for Dialogue and Cooperation among Civilization (CDCC) dan Jaringan Gusdurian mengadakan dialog antar umat beragama yang melibatkan lebih dari 65 pemuka agama dan pemangku kebijakan dari lima negara.
Forum dialog antar umat beragama ini bertujuan untuk membangun rasa tenggang rasa dan kerja sama antar komunitas agama di Asia Selatan dan Tenggara. Hal ini disampaikan oleh anggota KAICIID, Debbie Afriyanty.

Debbie mengatakan, diskusi kali ini adalah diskusi kedua yang melibatkan kedua agama, yaitu Islam dan Budha. "Intinya harus membangun dialog. Sebab selama ini antar agama itu kadang ada kesalahpahaman Makanya harus ada jembatan untuk diskusi," ujarnya kemarin.
Pertemuan kali ini, terang Debbie, mengajak kedua komunitas Islam dan Budha untuk membahas tiga poin penting. "Pertama adalah bagimana caranya supaya dua komunitas ini selaras dalam menjalankan pendidikan yang inklusif. Artinya tidak ada diskriminasi, tidak ada yang dihilangkan perannya. Dan kemudian sama-sama menghormati hak dan kewajiban masing-masing," katanya.
Kedua, bagaimana caranya mencegah ujaran kebencian di media sosial yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Apalagi informasi yang berasal dari media sosial susah terverifikasi kebenarannya.
Ketiga adalah bagaimana memmpromosikan kesakralan rumah ibadah. "Yang namanya rumah ibadah itu apapun bentuknya mau gereja mau pura, wihara, masjid sama-sama sakral, suci. Masing-masing komunitas itu harus menghormati rumah ibadah umat lain," katanya.
"Dan juga masing masing harus mau membuka rumah ibadahnya untuk dikunjungi, misal mau dikenal rumah ibadah kami seperti ini, dan tidak ada yang disembunyikan dan ini kami diskusikan selama tiga hari," ucap anggota Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional PP Muhammadiyah tersebut.
(Dyah Ratna Meta Novia)