Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Turunnya Wahyu Pertama di Gua Hira

Ibrahim Al Kholil , Jurnalis-Selasa, 24 Desember 2019 |08:43 WIB
Kisah Turunnya Wahyu Pertama di Gua Hira
Ilustrasi. Foto: Shutterstock
A
A
A

GUA Hira merupakan tempat yang sangat bersejarah bagi Umat Islam, karena di tempat inilah wahyu pertama turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Gua Hira terletak di Jabal Nur yang merupakan gunung yang berada di Kota Makah, Saudi Arabia. Di tempat inilah wahyu pertama yang manjadikan seorang manusia yang amat mulia, yaitu Muhammad Bin Abdullah sebagai seorang rasul.

Pada saat menerima wahyu pertama yang berisi Surat Al-‘Alaq ayat satu sampai lima, Rasulullah sedang menyendiri di gua tersebut. Ketika itu Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedang merenung dan menghindari diri dari kebatilan orang-orang kafir Quraisy.

Ustadzah Oki Setiana Dewi dalam rekaman ceramahnya di sekitar Gua Hari yang diunggah ke akun Instagram pribadinya @ okisetianadewi, menjelaskan bagaimana proses turunnya wahyu pertama tersebut.

Ia menyampaikan, “Di tempat inilah (Gua Hira) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di usianya yang ke-40 tahun mendapatkan wahyu pertama, pada saat itu Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang sedang berdiam diri di Gua Hira.”

Pada saat menyampaikan wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini, Malaikat Jibril mengatakan kepada Rasulullah “Iqro (bacalah)” dan Rasulullah menjawab bahwa ia tidak bisa membaca. Kemudian Malaikat Jibril mengulang-ulang kalimat tersebut dan jawaban yang sama pun keluar dari mulut Rasulullah, sampai akhirnya Malaikat Jibril menyampaikan wahyu yang berisi Surat Al-‘Alaq ayat satu sampai lima.

“Kemudian Rasul turun dari Jabal Nur ini, bertemu dengan Khadijah (red. istri Rasulullah) dan mengadukan rasa takutnya yang luar biasa,” ucap Oki.

Rasul mengatakan kepada istrinya, “Selimuti aku, selimuti aku” dan kemudian Khadijah menyelimuti Rasulullah. Setelah tenang Rasulullah menceritakan apa yang ia alami kepada istrinya tersebut.

Setelah mendengar apa yang terjadi pada diri suaminya, Khadijah mengatakan, “Wahai suamiku, Allah tidak akan menghinakan engkau. Engkau adalah orang yang baik suamiku. Engkau senantiasa menyambung tali silaturrahim, engkau senantiasa membantu orang-orang yang susah, engkau selalu memuliakan tamu. Maka Allah tidak akan pernah mensia-siakan engkau”.

Selanjutnya kata Oki, Setelah itu Khadijah Radhiallahu ‘Anha membawa Rasulullah kepada saudaranya yaitu Warakah bin Naufal.

Warakah kemudian mengatakan kepada Rasulullah “Seandainya aku masih hidup, aku pasti akan membelamu. Aku pasti akan menolongmu sekuat tenagaku. Engaku pasti akan diusir oleh orang-orang di Mekkah ini”.

Kemudian Rasulullah bertanya kepada Warakah “Apakah nanti aku akan diusir?” Lalu Warakah menjawab “Tidak ada seorang pun yang membawa kebenaran, kecuali mereka akan diperangi.”.

Oki menambahkan, sejak itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mulai berdakwah secara sembunyi-sembunyi dan kemudian dilanjutkan dengan dakwah secara terang-terangan.

(Abu Sahma Pane)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement