nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Situasi Darurat, Bolehkah Korban Banjir Menjamak atau Qashar Salat?

Novie Fauziah, Jurnalis · Jum'at 03 Januari 2020 15:27 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 03 330 2148916 situasi-darurat-bolehkah-korban-banjir-menjamak-atau-qashar-salat-YL8ZH1DVBP.jpg Ilustrasi. Foto: Istimewa

KETUA Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Dakwah dan Masjid, KH Abdul Manan A. Ghani mengingatkan bahwa Muslim yang merupakan korban banjir di Jakarta dan sekitarnya harus tetap melaksanakan salat, meski keadaan sedang darurat.

Sebab, hukum salat adalah wajib meski kondisinya darurat sekalipun. "Ya harus salat, bisa di tenda pengungsian atau tempat-tempat bersih lainnya," katanya kepada Okezone saat ditemui di Kantor Pusat PBNU beberapa waktu lalu.

Lalu bagaimana jika kondisinya tidak memungkinkan semisal belum menemukan tempat yang suci untuk salat fardhu tepat waktu? Ia mengatakan umat Islam bisa menjamak atau qadha salatnya.

Sementara itu seperti dikutip dari situs NU Online, salat dijamak dan qashar adalah suatu bentuk keringanan menjalankan salat. Keringan tersebut berlaku kepada siapapun yang mengalami musibah atau halangan karena sebab-sebab tertentu (illat).

Penjelasan salat dapat dijamak dan diqhasar juga diterangkan dalam Alquran. Bahwa keduanya dapat dilakukan saat sedang dalam perjalanan.

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأرض فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُواْ مِنَ الصلاة إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ الذين كفروا

Artinya: "Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqashar salat, jika kamu takut di serang orang kafir,"(Surat An-Nisa’ ayat 101).

Sementara berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Ibnu Abbas RA:

صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ، وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا فِى غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ سَفَرٍ قَالَ مَالِكٌ أُرَى ذَلِكَ كَانَ فِى مَطَرٍ

Artinya: "Rasulullah SAW melaksanakan salat zuhur dan asar dengan cara jamak. Salat maghrib dan isya dengan cara jamak tanpa adanya rasa takut dan tidak dalam keadaan perjalanan.” Imam Malik berkata, “Saya berpendapat bahwa Rasulullah melaksanakan salat tersebut dalam keadaan hujan,” (HR Baihaqi).

Sebelumnya, dilansir dari laman Muhammadiyah, Muslim yang jadi korban banjir tetap wajib salat meski kesulitan menjalankannya. Jika salat tidak bisa dilaksanakan pada waktunya karena alasan emergency, maka salat dapat dilakukan pada waktu yang memungkinkan (aman dan tidak bahaya). Pada dasarnya tidak ada dalil yang kuat untuk mengqada salat, terutama bagi mereka yang sengaja meninggalkan salat.

Sementara berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Ibnu Abbas RA:

صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ، وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا فِى غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ سَفَرٍ قَالَ مَالِكٌ أُرَى ذَلِكَ كَانَ فِى مَطَرٍ

Artinya: "Rasulullah SAW melaksanakan salat zuhur dan asar dengan cara jamak. Salat maghrib dan isya dengan cara jamak tanpa adanya rasa takut dan tidak dalam keadaan perjalanan.” Imam Malik berkata, “Saya berpendapat bahwa Rasulullah melaksanakan salat tersebut dalam keadaan hujan,” (HR Baihaqi).

Akan tetapi jika ada orang yang tidak melaksanakan salat pada waktunya karena ada halangan syar’i seperti tertidur atau lupa, maka yang bersangkutan harus melakukan salat ketika bangun dan ketika ingat. Hal ini merujuk kepada hadis yang di riwayatkan oleh At Tirmidzi, Rasulullah berkata;

“Sesungguhnya tidak ada masalah lalai kalau sedang tidur. Sesungguhnya lalai itu dalam keadaan juga, maka apabila lupa salah satu diantara mu atau sedang tidur (sehingga tidak mengerjakan salat), maka kerjakanlah salat apabila telah ingat.”

Permasalahan kehilangan waktu salat karena situasi evakuasi bencana atau banjir, dapat diqiyaskan dengan orang yang ketiduran dan lupa. ‘Illah adalah sama-sama meninggalkan salat dengan cara yang tidak disenggaja.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini