nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Tips Agar Terhindar dari Perbuatan Maksiat

Ibrahim Al Kholil, Jurnalis · Sabtu 08 Februari 2020 07:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 02 06 616 2164096 ini-tips-agar-terhindar-dari-perbuatan-maksiat-JDMqI2eL3T.jpg Ilustrasi. Foto: Spectator

ALLAH telah menganugerahkan nafsu kepada setiap insan sehingga setiap manusia memiliki keinginan untuk makan, minum, dan lain-lain. Namun jika nafsu ini tidak dikontrol, umat bisa terjerumus ke hal-hal negatif seperti berbuat maksiat.

Lalu bagaimana caranya supaya bisa mengontrol nafsu? Dikutip dari Buku Fiqih Cinta Karya Abdul Aziz Ahmad halaman 100-103, berikut tips membebaskan diri dari dorongan nafsu ke arah maksiat, menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah:

1. Dengan tekad yang kuat untuk membebaskan diri dari hawa nafsu, yakni cemburu karena jiwa dan kepada jiwa.

2. Dengan seteguk kesabaran, ia harus menyabarkan dirinya untuk menghindarkan diri dari pahitnya akibat buruk dari nafsu.

3. Kekuatan jiwa yang memberanikan dirinya untuk meneguk kesabaran itu. Keberanian sebenarnya hanyalah kesabaran sesaat, sementara hidup yang baik hanya akan diperoleh seorang hamba dengan kesabarannya.

4. Memperhatikan akibat yang baik dan kesembuhan yang dihasilkan oleh tegukan kesabaran itu.

5. Memperhatikan penderitaan yang lebih besar ketimbang kelezatan mengikuti hawa nafsu.

6. Menetapkan kedudukannya di sisi Allah SWT dan dalam hati hamba-hamba-Nya. Sebab, hal itu lebih baik baginya daripada mengikuti hawa nafsu.

7. Mengutamakan kelezatan dan manisnya kesucian diri ('iffah) dan harga-dirinya ketimbang kelezatan maksiat.

8. Bergembira dengan kemenangan melawan musuh, menaklukkannya, membuatnya marah, dan membuatnya sedih karena gagal mendapat apa yang diinginkannya. Allah SWT mencintai hamba-Nya yang memerangi musuh-Nya dan membuatnya marah, sebagaimana disebutkan oleh firman Allah dalam ayat-ayat Alquran berikut ini:

“ ... Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal salih,...” (QS at-Taubah, 9:120); dan juga “... Seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (QS al-Fath, 29); dan yang lain lagi: Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak,... (QS an-Nisa', 4:100).

Di sini, maksudnya adalah tempat yang tidak disangka oleh musuh-musuh Allah SWT. Karenanya, ciri-ciri cinta sejati adalah membuat marah dan kesal musuh-musuh sang kekasih. Merenungkan bahwa ia tidak diciptakan untuk hawa nafsu, melainkan untuk sesuatu yang lebih agung, yang hanya akan dicapai dengan mendurhakai hawanafsu.

9. Tidak melakukan perbuatan yang merendahkan dirinya dari hewan. Sebab, hewan secara naluriah mampu membedakan hal-hal yang berbahaya dan bermanfaat baginya, sementara manusia telah diberi akal untuk melakukannya. Jadi, jika manusia tidak mampu membedakan mana yang berbahaya dan mana yang bermanfaat baginya, atau tidak mampu mengenalinya dan lebih mengutamakan yang berbahaya baginya, maka keadaan hewan lebih baik dari dirinya.

Buktinya, hewan ternak diberi kelezatan makanan, minuman, dan persetubuhan yang tidak diperoleh manusia serta kehidupan yang menyenangkan tanpa perlu berpikir dan bercita-cita. Karena itulah ia digiring ke tempat penyembelihannya, pada saat ia sedang bergelimang syahwat. Sebab, ia tidak memikirkan akibatnya, sementara manusia tidak mau mendapatkan sesuatu yang didapatkan oleh hewan, karena ia mempunyai pikiran.

10. Bersama hatinya menelusuri akibat-akibat hawa nafsu dan merenungkan betapa banyak keutamaan yang hilang karena maksiatnya. Betapa banyak kehinaan yang terjadi. Betapa banyak makanan yang bisa menghalangi makanan-makanan lain. Betapa banyak kelezatan yang dapat melenyapkan kelezatan-kelezatan lain. Betapa banyak syahwat yang dapat menghancurkan kewibawaan, menjungkirkan kepala, merusak nama baik, menimbulkan cela, mengakibatkan kerendahan, memberikan noda yang tidak dapat dicuci dengan air-hanya karena mata pemilik hawa-nafsu sudah buta.

11. Merenungkan saat ia telah berhasil meraih tujuannya kepada orang yang ia cintai (berzina). Lalu, ia renungkan keadaannya setelah memuaskan libidonya, apa yang hilang darinya dan apa yang ia dapatkan.

12. Membayangkan keadaan orang lain dengan sebaik-baiknya. Kemudian ia membayangkan bagaimana jika dirinya yang seperti itu.

13. Memikirkan apa yang diminta oleh hawa-nafsunya, lalu bertanya kepada akal dan agamanya tentang hal itu. Keduanya pasti akan menyatakan bahwa hal itu tidak ada artinya sama sekali. Abdullah bin Mas'ud r.a. berkata, "Jika ada seorang wanita yang kalian kagumi, maka ingatlah kebusukan-kebusukannya." Ini lebih baik dari ucapan Ahmad bin Hanbal, "Jika pencinta memikirkan akhir dari keindahan yang memikatnya, maka ia tidak akan terpikat." Sebab, Ibn Mas'ud mengatakan keadaan yang telah terjadi, sementara Ahmad bin Hanbal mengisahkan keadaan yang akan terjadi.

14. Meninggikan dirinya dari kerendahan mengikuti hawa nafsu. Sebab, siapa pun yang mengikuti hawa nafsunya pasti akan mendapatkan kerendahan pada dirinya. Jangan sampai tergoda oleh pengaruh para pengikut hawa-nafsu dan kesombongan mereka. Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang paling rendah dan mereka menggabungkan dua keutamaan: sombong dan hina.

15. Hendaknya ia mempertimbangkan keselamatan agama, kehormatan, harta, dan kewibawaan, dengan kelezatan yang dicari, karena tidak akan sebanding sama sekali. Ia akan menjadi manusia yang paling idiot jika menukar yang mulia dengan yang hina.

16. Membenci dirinya jika sampai berhasil dikuasai oleh dominasi musuhnya. Sebab, jika setan melihat seorang hamba lemah tekad dan niatnya serta cenderung kepada hawa nafsunya, maka ia akan segera menyergapnya dan memasang tali kendali hawa-nafsu padanya, lalu menyetirnya ke arah mana yang ia inginkan. Akan tetapi, jika ia merasakan hal itu dengan kekuatan tekadnya dan kemuliaan jiwanya, maka niatnya akan menguat karena setan sangat berambisi untuk merampas dan mencurinya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini