nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bahaya Orang yang Tidak Membayar Utang Padahal Mampu

Novie Fauziah, Jurnalis · Selasa 11 Februari 2020 14:40 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 02 11 614 2166720 bahaya-orang-yang-tidak-membayar-utang-padahal-mampu-90eKPjq9UA.jpg foto: ilustrasi/Okezone

KERAP kali jika seseorang sedang memiliki kebutuhan mendesak, mau tak mau jalan satu-satunya adalah berutang. Hal ini memang sudah tidak heran lagi di kalangan masyarakat luas, bahkan banyak perusahaan keuangan yang menyediakan pelayanan pinjaman atau kredit.

Namun tetap saja, sebagai seorang muslim menghindari kemudharatan adalah hal yang harus diutamakan walaupun berutang hukumnya adalah mubah (boleh).

Ketua Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia (FKDMI) Jakarta Timur, Ustadz Asroni Al Paroya menjelaskan, meski berutang dibolehkan dalam hukum syara, namun bukan berarti bisa berutang semaunya.

"Karena begitu banyak peringatan yang diberikan kepada orang yang berutang dan ia tidak membayar utangnya," katanya saat dihubungi Okezone, Senin (10/2/2020).

Namun kata Asroni, bagi seseorang yang berutang dan tidak membayarnya maka dosanya tidak akan diampuni sampai ajal menjemput. Kemudian perkara utangnya tersebut akan terbawa sampai ke akhirat nanti.

Perkara tersebut juga dijelaskan dalam riwayat hadist. Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

Artinya: "Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang." (HR. Muslim no. 1886).

Maka sangat jelas, bahwasannya sekecil apapun utang yang ditanggung hukumnya wajib dibayarkan. Kemudian terdapat doa supaya segera dipermudah dalam melunasi utang. Doa ini dibaca sebelum tidur.

Dari Suhail,ia berkata, "Abu Shalih telah memerintahkan kepada kami bila salah seorang di antara kami hendak tidur, hendaklah berbaring di sisi kanan kemudian mengucapkan;

 

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Artinya: "Yaa Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah). Ya Allah, Engkau-lah yang awal, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelahMu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang lahir, tidak ada sesuatu di atasMu. Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang luput dari-Mu. Lunasilah utang kami dan berilah kami kekayaan (kecukupan) hingga terlepas dari kefakiran." (HR. Muslim no. 2713).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini