Menghadapi Wabah, Ibnu al-Khatib Ajarkan Social Distancing

Minggu 05 April 2020 06:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 04 614 2194067 menghadapi-wabah-ibnu-al-khatib-ajarkan-social-distancing-7DcQWJNaFy.jpg Wabah penyakit (Foto: Pixabay)

Sejatinya wabah mengerikan pernah terjadi pada abad ke-14. Yakni wabah Maut Hitam alias Black Death yang melanda Eropa.

 

Wabah ini berhasil membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa. Wabah ini menular dengan cepat dan mematikan.

Ustadz W Eka Wahyudi mengatakan, seorang ulama Ibnu al-Khatib dalam kitabnya Muqni'ah al-sail an al-maradhal ha'il memperkenalkan teori penularan wabah.

 social distancing

Ia menjelaskan, fakta penularan menjadi jelas bagi para peneliti yang memperhatikan bahaya seseorang yang menjalin kontak dengan penderita akan menderita penyakit yang sama, sedangkan orang yang tidak menjalin kontak akan tetap sehat. Bahwa penularan wabah bisa terjadi lewat pakaian, gelas minum, dan anting-anting.

Teori penularan yang dipaparkan oleh Ibnu Khatib inilah yang kita kenal sekarang dengan konsep social distancing. Wabah tidak bergerak, kitalah yang menggerakkannya. Jika kita berhenti bergerak (berkerumun), maka virus berhenti berpindah ke orang lain. Sederhananya demikian.

Seperti dilansir website Laduni.id, Islam adalah agama jamaah. Ibadah kolektif menempati posisi krusial dalam tradisi keislaman.

Namun doktrin ini tidak cocok diterapkan saat merebaknya wabah. Jika tidak, akan terulang kembali peristiwa memilukan sebagaimana direkam oleh amirul muhaditsin Ibnu Hajar al-Asqolani.

Dalam kitabnya Badzl al-Maun fii Fadhl at-Thaoun diceritakan pernah terjadi wabah di suatu daerah namun ditanggapi oleh umat muslim saat itu dengan berjamaah membaca sohih bukhori dan membaca Surat Nuh di mihrab sahabat sebanyak 3363x, lalu setelahnya berdoa bersama agar diangkat wabah tersebut, namun yang terjadi malah wabah bertambah keganasannya.

Di kitab yang sama, Ibnu Hajar mencatat bahwa seorang khotib di setiap sholat membaca qunut dan doa, sampai mereka puasa 3 hari sampai terkumpul lautan manusia di jalan-jalan sambil menangis bertawajjuh, namun yang terjadi banyak yang meninggal dan semakin parah. Konon, saat itu di damaskus sehari 1.000 orang meninggal akibat serangan virus.

Begitulah gambaran bahaya kerumunan saat wabah merebak, virus menyerang. Dan beberapa abad sebelumnya sudah diperingatkan oleh Ibnu al-Khatib tentang pentingnya social distancing.

Ibnu Al-Khatib karena kecakapannya yang multidimensional yakni seorang faqih, fisikawan, penyair, filsuf dan ahli kedokteran, dijuluki sebagai Lisanuddin.

Philip K. Hitti mencatat, Ibnu Khatib hidup pada kisaran tahun (1313-1374), berasal dr keluarga Arab namun pindah ke Spanyol. Karena mengalami dua kekuasaan Sultan Nashriyah ketujuh, yakni Yusuf Abu al-Hajaj dan anaknya Muhammad V, ia juga mendapat gelar dzu al-wizaratain.

Ibnu Khatib merupakan orang hebat yang tinggi keilmuannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini