MENJADI seorang dengan kemampuan fisik terbatas atau disabilitas tak melulu menuntut perhatian dari orang lain untuk mendapatkan fasilitas khusus. Namun, sayangnya tidak banyak pula fasilitas publik bisa memenuhi kebutuhan kaum disabilitas yang ingin menunaikan ibadah.
Seperti yang dialami salah satu jurnalis tunanetra, Cheta Nilawaty (37) yang sholatnya batal gara-gara salah kiblat. Cerita yang dibagikan melalui akun Facebook-nya ini terjadi sekira enam bulan lalu, atau sebelum wabah Corona melanda.
"Saya sholat Dzuhur bertiga bareng teman tunanetra low vision di sebuah mushola sebuah gedung kementerian. Karena salah satu dari kami berjenis kelamin laki-laki, otomatis tempat wudhu dan sholatnya berpisah," tulis Cheta.
Perempuan yang tengah mempersiapkan diri melanjutkan studi master-nya ke Australia ini otomatis memperkirakan musholanya kecil karena pembatas antara tempat sholat perempuan dan lelaki tidak terlalu tegas. Sang teman pun menunjukkan arah kiblat kepada Cheta.
Hingga rakaat ketiga, lamat-lamat Cheta mendengar suara teman tunanetra laki-laki berada di sebelah kirinya. "Saya pikir, tentu dia masih jauh dari saya karena tempatnya pasti terpisah. Begitu sujud, ternyata saya sujud di atas kepala orang," urai perempuan berjilbab yang akrab dengan tagar #TunetSotoy ini.
Refleks Cheta menggeser badannya ke kanan. Alamak, tubuhnya lagi-lagi terbentur ternyata kepala orang lain. Akhirnya Cheta membatalkan sholatnya.
"Kata orang yang melihat, kami bertiga mirip bocah lagi main petak umpet, bertiga ngariung sambil sujud. Ternyata arah kiblatnya ngikutin suara teman," ujar Cheta mengenang kenaifan bersama teman-temannya.
(Muhammad Saifullah )