Tradisi Ziarah Kubur Tetap Dilakukan di Tengah Wabah COVID-19?

Novie Fauziah, Jurnalis · Jum'at 17 April 2020 17:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 17 614 2200846 tradisi-ziarah-kubur-tetap-dilakukan-di-tengah-wabah-covid-19-NNIObeGBde.jpg Foto: Okezone

BULAN Ramadhan tinggal menghitung hari, biasanya sebagian masyarakat Indonesia melakukan tradisi ziarah atau mengunjungi makam, setiap daerah pun memiliki penyebutannya masing-masing seperti nyekar atau nyadran (bahasa Jawa).

Tradisi ziarah kubur memiliki beberapa makna, misalnya niat mengunjungi orang yang sudah wafat dan mendoakannya karena Ramadhan akan tiba. Salah satu yang sering rutin melakukan ziarah sebelun bulan puasa tiba, yaitu pengusaha muda asal Sukabumi, Jawa Barat, Muhammad Zaky Mubarak.

Menjelang Ramadhan tiba Zaky biasa ziarah ke dua daerah, yaitu tempat tinggalnya saat ini (Sukabumi) dan Cianjur kampung halaman ibunya.

"Setiap tahunnya sebelum puasa saya rutin ziarah ke makam, baik yang di Cianjur dari keluarga ibu atau di Sukabumi kelurga dari bapak. Sambil membersihkan makam juga," katanya saat dihubungi Okezone, Jumat (17/4/2020).

Menurutnya, ziarah kubur bukan hanya sekadar berkunjung mengunjungi atau mendoakan keluarga atau kerabat yang sudah meninggal dunia. Namun di dalamnya terdapat beberapa keutamaan yang dapat menjadi pahalan bagi yang melaksanakannya.

"Menurut pengetahuan saya ilmu pelajaran dari guru atau ustadz saya dulu, ziarah kubur sangat baik bukan musyrik karena kita niatnya mendoakan, dan berdoa atau membaca ayat-ayat suci Alquran itu berpahala," tuturnya.

Akan tetapi saat ini pandemi virus corona (COVID-19) masih menjangkit di berbagai negara, khususnya Indonesia, maka Zaky dan keluarganya akan mempertimbangkan kembali untuk melakukan ziarah kubur. Mengingat peraturan social distancing dan physical distancing masih berlaku.

"Untuk Ramadhan ini kami enggak tahu bagaimana karena harus di rumah saja. Kalau pun harus pergi berziarah tentunya akan lebih berhati-hati, seperti memakai masker, membawa hand sanitizer, jaga jarak hingga mencari waktu ketika keadaan orang-orang tidak ada yang keluar rumah. Malam hari misalnya karena letak makamnya ada di komplek (makam keluarga)," katanya.

Sementara itu menurut Ketua Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadist Indonesia Ustadz Fauzan Amin, menuturkan, hukum ziarah kubur adalah sunah dan juga dianjurkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, bukan sekadar tradisi. Tujuannya yaitu untuk mengingat umat Islam, bahwa kematian akan datang kepada setiap orang kapan saja dan dimana saja.

"Ziarah bertujuan untuk mengingat akan kematian agar kita semangat mencari bekal pahala dan menghindari dosa," ujar Fauzan kepada Okezone beberapa waktu lalu. 

زيارة القبور مستحبة على الجملة للتذكر والاعتبار وزيارة قبور الصالحين مستحبة لأجل التبرك مع الاعتبار

 Artinya: "Ziarah kubur disunnahkan secara umum dengan tujuan untuk mengingat (kematian) dan mengambil pelajaran, dan menziarahi kuburan orang-orang shalih disunnahkan dengan tujuan untuk tabarruk (mendapatkan barakah) serta pelajaran," (Al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Dien, juz 4, hal. 521).

Mulanya, ziarah kubur merupakan salah satu praktik yang mengalami perubahan (nasikh-mansukh). Pada zaman awal Islam berdiri, Rasulullah melarang umat melakukannya (red. Ziarah kubur). Kemudian larangan tersebut mansukh (diubah) menjadi suatu perbuatan yang diperbolehkan untuk dilakukan.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: 

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

Artinya: "Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian," (HR. Muslim).

 Dalam riwayat yang lainnya, Rasulullah tidak hanya menganjurkan untuk ziarah kubur, namuan ia juga menjelaskan beberapa keutamaan jika melakukan praktik tersebut.

 Nabi Muhammad bersabda:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا، فَإِنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرً

 Artinya: "Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah),"(HR. Hakim).

Kemudian sebelum memasuki area pemakaman, Rasulullah mengucapkan salam terlebih dahulu kepada para ahli kubur karena ia akan memasuki wilayahnya, yaitu:

السَّلامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنينَ وَأتاكُمْ ما تُوعَدُونَ غَداً مُؤَجَّلُونَ وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحقُونَ

 Assalâmu‘alaikum dâra qaumin mu’minîn wa atâkum mâ tû‘adûn ghadan mu’ajjalûn, wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn

 Artinya: "Assalamualaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Tuhan yang sempat ditangguhkan besok, dan kami Insya Allah akan menyusul kalian".

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Mengucapkan salam sebelum memasuki area pemakaman untuk melakukan ziarah, yakni sebagai bentuk penghormatan Rasulullah kepada para ahli kubur. Terlebih yang dituju adalah tempat peristirahatan terakhir ulama-ulama atau orang-orang salih dan salihah.

"Setelah mengucapkan salam, ziarah ke kuburan saat itu Nabi juga mengakhirinya dengan berdoa," katanya.

Doa yang dimaksud adalah: 

السَّلامُ على أهْلِ الدّيارِ مِنَ المُؤْمنينَ وَالمُسْلمينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ المُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ وَمِنَّا وَالمُسْتأخِرِين وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّه بِكُمْ لاحِقُونَ

Assalâmu‘alaikum dâra qaumin mu’minîn wa atâkum mâ tû‘adûn ghadan mu’ajjalûn, wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn

Artinya:"Assalamu’alaikum, hai para mukmin dan muslim yang bersemayam dalam kubur. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang telah mendahului dan yang akan menyusul kalian dan (yang telah mendahului dan akan menyusul kami. Sesungguhnya kami Insya Allah akan menyusul kalian".

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya