Ingin Banyak Rezeki? Ikuti Cara Makan KH Hasyim Asy'ari

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Senin 25 Mei 2020 11:17 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 25 616 2219184 ingin-banyak-rezeki-ikuti-cara-makan-kh-hasyim-asy-ari-WhT5v9Ns88.jpg KH Hasyim Asy'ari (Foto: NU Online)

SALAH satu pendiri Nahdlatul Ulama Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mengajarkan hal penting untuk meraih keberkahan hidup kepada keturunannya.

Keluarga Hadratussyaikh yang banyak menghabiskan waktunya bersama para santri di Pondok Pesantren, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur ini ternyata sangat menghargai makanan.

“Di saat makan, kalau mau menambah, maka sisakan yang ada di piring jangan dihabiskan terlebih dahulu. Tetapi disisakan entah satu atau dua sendok agar rezekinya tidak habis. Setelah itu, baru tambah entah nasi atau lauk pauknya, agar kita mendapat rezeki dari Allah pada saat kita tidak mendapatkan kenikmatan yang diberikan lagi," pesan Hadratussyaikh yang dikutip ulang oleh Direktur Unit Penerbitan Tebuireng Ahmad Faozan di website tebuireng.online.com, Senin (25/5/2020).

Pesan sang ayah tersebut rupanya dipraktikkan para putra serta cucunya. Seperti yang dilakukan oleh KH Abdul Karim Hasyim yang tidak pernah mengeluh mengenai menu makanan yang dihidangkan di meja makannya. Ahli bahasa dan sastra Arab ini selalu bersyukur menikmati makanan bersama keluarganya.

(Baca Juga : Idul Fitri, Ini Pesan Raja Salman untuk Umat Islam)

Uniknya, paman dari KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ini punya cara makan yang menurut keluarganya tak biasa. Kiai Karim selalu mengawali makan dengan cara menghabiskan lauk pauknya bercita rasa biasa. Ia sisakan lauk yang enak untuk dimakan menjelang akhir. Kenapa demikian?

“Inilah cara menikmati makanan. Yang kurang enak dimakan terlebih dahulu sedangkan yang enak di akhir. Sama dengan kita hidup, kita harus merasakan hal-hal yang kurang enak di hati kita. Toh, nanti kita akan merasakan sesuatu yang enak dikemudian hari,” jawab Kiai Karim.

(Baca Juga : Begini Cara Sholat Subuh Jika Bangun Kesiangan)

Masalah adab makan ini ternyata juga pernah disinggung oleh putra Hadratussyaikh lainnya, KH M. Yusuf Hasyim. “Kepribadian seseorang itu dapat terlihat saat ia makan,” katanya. Betapa, membaca kepribadian seseorang memang tidak melulu dari gaya berkomunikasi dan tulisan tangannya, namun juga saat seseorang makan.

Sedangkan Gus Dur, cucu Hadratussyaikh nampaknya menilai semua makanan nikmat. Walaupun terkadang dilarang oleh dokter tetap ia tak menghiraukan aturan makanan untuknya.

"Entah karena makan bersama orang khusus. Entah karena ingin menghormati yang membuat makan dan lain sebagainnya," tulis Faozan.

Begitupun dengan adik kandung Gus Dur, dr. Sholahuddin Wahid atau Gus Sholah. Pengasuh Ponpes Tebuireng ini selalu terlihat makan lahap sekali meskipun lauknya hanya tahu dan tempe plus sayur. Menantu Menteri Agama era Presiden Soekarno, KH Saifuddin Zuhri ini ikut menikmati menu ala santri.

"Dengan makan hidangan para santri dan pengurus pondoknya bagi Gus Sholah tidak sekadar merasakan kenikmatan sebuah makanan. Lebih dari itu menjadi lebih tahu menu makanan buat para santrinya sudah kaya gizi belum," ulas Faozan.

Pesan penting yang bisa dipetik dari para kiai tersebut, menurut Faozan adalah etika saat makan. Para ulama besar tersebut menyelipkan pesan agar jangan mencaci maki makanan. Bersyukurlah masih bisa makan dan diberi kenikmatan oleh Allah SWT.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini